Hi!
Sudah lumayan banyak kisah Tara & Nathan yang aku post di blog ini dengan tag 'Tara Journey" atau "cerbung". Tapi, sayang banget, aku pikir posting mengenai Tara & Nathan ini nggak akan aku lanjutkan lagi. Ya memang dasarnya kisah Tara & Nathan sudah berakhir. Sebetulnya terlalu berat hati untuk mengakhiri tulisan mengenai Tara & Nathan ini. Karena aku suka dengan karakter seorang Tara di sini yang sangat mengagumi sosok Nathan. Tara mencintai dan menyayangi Nathan dengan sangat sempurna. Meskipun Nathan sudah berulang kali menyakiti Tara, si Tara ini masih terlihat begitu mengagumi sosok Nathan dan nggak pernah membencinya. Coba deh di dunia nyata, jarang banget kan ada orang yang kayak gini? Rasa-rasanya bisa membawa kita untuk bilang "beruntung banget Nathan" atau "Nathan pasti nyesel ninggalin Tara". Dan walau Tara sangat mengagumi sosok Nathan, rasa itu hanya berhenti di situ. Sudah tidak ada lagi perpaduan rasa sayang, cinta, benci dan amarah di dalamnya.
Banyak orang yang bertanya-tanya, "Fik, itu cerita lo apa karangan?" atau ada yang langsung to the point "Itu curhat ya, Fik?" hmmm pertanyaan itu nggak salah buat diajuin dan judgement itu pun nggak seratus persen salah. Well, aku banyak terinspirasi dari kisahku sendiri sebetulnya. Banyak banget pelajaran hidup yang aku dapet di usia yang masih terbilang muda. Bahkan di umur 15-16 aku sudah mendapati kenyataan yang membuat aku harus berkata "Please, ini ftv banget." atau "Gue kira hal-hal kayak gini cuma ada di ftv. Busuk." atau bertanya "Kenapa sih harus gue yang ngerasain kayak gini?". Bahkan banyak di antara mereka yang bilang "Gila ya, Fik. Gue kira lo adem ayem aja gitu, tenang, happy terus. Ngga taunya complicated banget." Lalu muncul pertanyaan di benakku, "Am I that smart to pretending to smile?"
Tapi gini, ketika pingin share dan ngeluarin uneg-uneg, aku cenderung lebih suka menulis. Nah, kamu tau, saat merasa tersakiti, rasanya kamu ingin mengeluarkan segala yang jelek-jelek tentang orang itu yang menyebabkan kamu sakit, kan? Aku berusaha menghindari hal itu. Jadi di kisah Tara Nathan ini aku nggak sepenuhnya memasukkan karakter pribadi aku di situ. Kalo boleh jujur, bahkan karakter Tara terlalu sempurna buat ada di diri aku. Belakangan, posting mengenai Tara Nathan ini lebih banyak terima kasih dan maaf yang diucapkan Tara buat Nathan, kenapa? Jujur, aku memang berterima kasih sekali kepada masa lalu yang mengajarkan banyak hal, meskipun aku harus merasakan sakit dan terjatuh berkali-kali. Aku juga menyelipkan permohonan maaf karena di saat terakhir, di saat dia kembali, rasa yang dulu itu telah mati. Aku pernah merasa bersalah atas apa yang tidak aku kehendaki. Aku pernah takut jadi orang jahat di matanya.
FAQ
Q: Lo masih sayang mantan lo ya?
A: Duh, pertanyaan ini selalu terulang tiap kali aku ngepost Tara & Nathan. But, I swear, aku juga nggak tau apa yang kurasa, semuanya biasa aja, datar, apa aku harus bilang iya kalo jawabannya enggak? It's not because i found another, tapi ya memang kenyataannya udah nggak ada rasa apa-apa. Mau aku cerita menggebu-gebu tentang kesakitanku di masa lalupun, aku udah nggak merasa sakit saat ini. Yang aku bilang sakit, ya itu di masa lalu.
Q: Maksud lo apa sih nulis postingan tentang Tara & Nathan?
A: Sebetulnya lebih ke sharing dan nyalurin hasrat buat nulis aja sih. Pengen nulis secara 'curhat', tapi terlalu frontal kalo curhat gitu aja, yang ada malah aku jelek-jelekin orangnya. Kalo lewat Tara & Nathan ini kan bahasanya halus dan orangpun jadi berandai-andai gimana sih sosok Tara dan Nathan di kehidupan asli. Karena kalo baca surat dari Tara untuk Nathan, pasti orang akan bayangin sosok Tara dan bayangan yang muncul di pikiran mereka biasanya bukan aku :p Kadang-kadang aku juga menyisipkan pesan-pesan, kalo kalian pikir baik-baik, pesan itu pastinya nggak cuma buat mantan, tapi buat orang-orang yang ngerasa "ih, ini kisah gue banget."
Q: Kalo dilihat dari tanggal postingan, kayaknya masih baru banget ya?
A: Sebenernya nih ya, ketika aku nulis tuh kejadiannya udah lama banget. Contohnya aja waktu itu aku pernah nulis bulan Maret atau Juni 2012, padahal inspirasi kejadiannya itu di bulan Oktober 2011. Ya semacam itulah, cuma saat itu aku lagi pingin ngerangkai kata-kata aja, jadi kisah di bulan Oktober itu menginspirasi aku.
Q: Perbedaan karakter Tara dan Nathan dengan yang nyata apa?
A: Perbedaannya fatal banget. Coba aja, setiap baca kisah itu seakan-akan si Tara ini ikhlas banget dapet cobaan bertubi-tubi, disakitin, dan lain-lain. Sedangkan aku enggak sebegitunya. Tara juga menyayangi Nathan dengan sangat sempurna, seakan-akan Tara masih sayaang banget sama Nathan hingga detik ini. Itu karena pemilihan diksi aja yang membuat efek seakan-akan Tara masih sayang Nathan :p Padahal di situ ditulis Tara udah nggak ada rasa apapun. Sama kayak aku, sama-sama udah nggak ada rasa, tapi efek seakan-akan aku masih sayang itu nggak ada. Terus, Nathan di situ juga seakan-akan cowok yang sempurna banget buat Tara.
Q: Kalo mantan lo atau ada orang yang ngerasa tersinggung sama postingan lo tentang ini gimana?
A: Kalo mantan yang protes, itu aku anggap suatu kewajaran. Memang kisah ini kan terinspirasi dari kisah yang dia buat juga di masa lalu, tapi ya aku cuma bisa minta maaf. Aku pun nggak ada maksud negatif atas semua postingan ini, aku berusaha menggunakan bahasa yang sehalus dan serapi mungkin. Dan aku juga mengemas cerita ini dengan karakter yang berbeda dengan karakter aslinya. Ketika aku menulis sebagai Tara, yang ada di bayangan aku ya sosok Nathan, seseorang yang entah siapa yang pernah disayangi Tara dengan sangat sempurna. Aku juga jadi ikut tenggelam dalam karakter Tara yang polos. Begitu juga saat aku membaca hasil tulisanku, yang aku bayangkan ketika membaca cerita ini ya Nathan. Sosok Nathan yang nggak pernah aku temui di kehidupan nyata. Tapi aku nggak pingin berhenti menulis karena dikritik seperti itu, aku suka merangkainya jadi sebuah cerita baru. Kalo ada orang lain yang protes juga, ya aku nggak ngerti juga, karena kalopun ada pesan-pesan yang Tara tujukan ke Nathan, itu mungkin bisa dicerminkan menjadi pesan-pesan aku ke mantan, bukan untuk orang lain secara spesifik. Jadi ya aku cuma bisa minta maaf, dan aku nggak pernah kepikiran buat berhenti nulis karena kritikan-kritikan itu.
Q: Kepikiran nggak buat ngepost cerita kayak gini tapi tentang lo sama si 'another' itu?
A: Yap. Sewaktu menulis "Nathan dan Masa Lalu" sempat terlintas keinginan untuk menyudahi postingan mengenai Tara & Nathan. Mungkin juga sudah nggak ada lagi yang bisa aku tulis. Dan ya, aku sempat berpikir untuk memosting tulisan sejenis ini dengan kisah dan tokoh yang berbeda. Tapi, aku nggak tau akan seperti apa jadinya. Karena kisah aku sekarang masih tenang. Berarti ceritanya bahagia aja dong? :p Terkadang, aku baru bisa terinspirasi ketika aku merasa terusik :p
Jadi, Tara & Nathan berakhir? Entahlah. Aku rasa sampai di sini aja, tapi tidak menutup kemungkinan suatu saat akan ada postingan serupa. Terima kasih yang sudah setia membaca :) Semoga menginspirasi.
F I K A
Showing posts with label Tara Journey. Show all posts
Showing posts with label Tara Journey. Show all posts
Saturday, December 22, 2012
Sunday, December 16, 2012
Nathan dan Masa Lalu
Dear Nathan,
Mungkin kau kira aku tak akan pernah menulis mengenai dirimu lagi. Tetapi tenang saja, aku bukan sedang merindukanmu, atau mengenangmu. Aku hanya sedikit tersadar akan suatu hal.
Nathan,
Ada orang yang begitu benci dengan masa lalu. Bahkan ingin segera melenyapkan jejak-jejaknya dari lembar kehidupan. Aku baru tersadar akan satu hal. Bahwa masa lalu begitu banyak mengajarkanku tentang hidup. Saat aku belum mengenalmu, aku menganggap hidupkan akan berjalan normal seperti kebanyakan orang. Ternyata tidak. Entahlah, terlalu banyak kesenangan dan kesedihan yang jauh dari normal. Aku sempat berpikir keras mengapa semua masalah itu harus datang kepada aku yang begitu polos kala itu. Namun, aku mulai membuka mata bahwa Tuhan punya maksud mulia atas segala skenario yang Dia buat.
Nathan,
Kau tahu tidak? Tuhan memilih aku untuk mengalaminya karena aku istimewa. Tuhan tentu tidak akan memberi ujian di luar kemampuan hamba-Nya, bukan? Itu benar, Nathan. Aku merasakannya. Betapa Tuhan bertanggung jawab atas ujian yang diberikannya. Dia merangkulku kembali hingga aku berdiri saat ini. Aku selalu kagum dengan-Nya.
Hari ini ada banyak hal yang membuatku banyak sekali mengucap syukur. Hal yang kudenger hari ini mengingatkanku bahwa aku pernah mengalami hal serupa. Hal yang sama-sama sangat menyakitkan. Di mana aku seakan terjatuh dalam mimpi buruk berkepanjangan.
Aku belajar banyak hal. Aku mulai mengerti mengapa Tuhan memilihku kala itu. Aku tahu rasanya, aku tahu persis. Aku paham betul bagaimana rasa sakit yang begitu menjalar dan menusuk hingga titik terdalam. Aku teringat bahwa aku pernah mengalami hal serumit itu. Sejak itu, aku tak pernah menyarankan orang lain untuk menyerah. Meski aku tahu setiap kisah pasti ada akhirnya.
Nathan,
Masa lalu yang begitu membekas itu adalah alasan kekuatanku hari ini. Meskipun aku seringkali mudah menangis menghadapi segala masalah. Percayalah, aku lebih kuat dari sebelumnya. Aku belajar menjadi dewasa sedikit demi sedikit, meski aku tahu sikapku jauh dari kedewasaan. Aku belajar merajut kesabaran, karena pada akhirnya sabar akan berbuah manis.
Entah sudah berapa kali aku berterima kasih pada masa lalu, pada Tuhan yang begitu apik mengatur segalanya. Tapi aku tak pernah bosan untuk itu. Masa lalu benar-benar mengajarkanku banyak hal. Bahwa hidup tidak selamanya seperti yang kita inginkan. Ada banyak hal yang harus manusia pahami. Bahwa Tuhan menunjukkan kehadiran-Nya melalui sebuah pelajaran hidup.
Nathan,
Sebanyak apapun aku berterima kasih kepadamu yang telah menjadi perantara pelajaran kehidupan, kamu tetaplah kamu. Yang mungkin masih berkutat dengan segala hal yang sama seperti dulu. Aku punya satu permintaan untukmu. Jadilah laki-laki sejati. Yang tak sekedar berpaut pada janji, tetapi juga pembuktian. Aku pernah merasakan sakit sebegitu dalam karenamu, Nathan. Aku harap tak ada lagi yang mengalami hal seperti itu. Aku yakin kau mengerti maksudku. Selesaikanlah urusan terdahulumu, jangan libatkan lebih banyak orang dalam satu kisah yang sama. Lakukan apa yang memang seharusnya kamu lakukan. Aku harap segalanya baik.
Tara.
Mungkin kau kira aku tak akan pernah menulis mengenai dirimu lagi. Tetapi tenang saja, aku bukan sedang merindukanmu, atau mengenangmu. Aku hanya sedikit tersadar akan suatu hal.
Nathan,
Ada orang yang begitu benci dengan masa lalu. Bahkan ingin segera melenyapkan jejak-jejaknya dari lembar kehidupan. Aku baru tersadar akan satu hal. Bahwa masa lalu begitu banyak mengajarkanku tentang hidup. Saat aku belum mengenalmu, aku menganggap hidupkan akan berjalan normal seperti kebanyakan orang. Ternyata tidak. Entahlah, terlalu banyak kesenangan dan kesedihan yang jauh dari normal. Aku sempat berpikir keras mengapa semua masalah itu harus datang kepada aku yang begitu polos kala itu. Namun, aku mulai membuka mata bahwa Tuhan punya maksud mulia atas segala skenario yang Dia buat.
Nathan,
Kau tahu tidak? Tuhan memilih aku untuk mengalaminya karena aku istimewa. Tuhan tentu tidak akan memberi ujian di luar kemampuan hamba-Nya, bukan? Itu benar, Nathan. Aku merasakannya. Betapa Tuhan bertanggung jawab atas ujian yang diberikannya. Dia merangkulku kembali hingga aku berdiri saat ini. Aku selalu kagum dengan-Nya.
Hari ini ada banyak hal yang membuatku banyak sekali mengucap syukur. Hal yang kudenger hari ini mengingatkanku bahwa aku pernah mengalami hal serupa. Hal yang sama-sama sangat menyakitkan. Di mana aku seakan terjatuh dalam mimpi buruk berkepanjangan.
Aku belajar banyak hal. Aku mulai mengerti mengapa Tuhan memilihku kala itu. Aku tahu rasanya, aku tahu persis. Aku paham betul bagaimana rasa sakit yang begitu menjalar dan menusuk hingga titik terdalam. Aku teringat bahwa aku pernah mengalami hal serumit itu. Sejak itu, aku tak pernah menyarankan orang lain untuk menyerah. Meski aku tahu setiap kisah pasti ada akhirnya.
Nathan,
Masa lalu yang begitu membekas itu adalah alasan kekuatanku hari ini. Meskipun aku seringkali mudah menangis menghadapi segala masalah. Percayalah, aku lebih kuat dari sebelumnya. Aku belajar menjadi dewasa sedikit demi sedikit, meski aku tahu sikapku jauh dari kedewasaan. Aku belajar merajut kesabaran, karena pada akhirnya sabar akan berbuah manis.
Entah sudah berapa kali aku berterima kasih pada masa lalu, pada Tuhan yang begitu apik mengatur segalanya. Tapi aku tak pernah bosan untuk itu. Masa lalu benar-benar mengajarkanku banyak hal. Bahwa hidup tidak selamanya seperti yang kita inginkan. Ada banyak hal yang harus manusia pahami. Bahwa Tuhan menunjukkan kehadiran-Nya melalui sebuah pelajaran hidup.
Nathan,
Sebanyak apapun aku berterima kasih kepadamu yang telah menjadi perantara pelajaran kehidupan, kamu tetaplah kamu. Yang mungkin masih berkutat dengan segala hal yang sama seperti dulu. Aku punya satu permintaan untukmu. Jadilah laki-laki sejati. Yang tak sekedar berpaut pada janji, tetapi juga pembuktian. Aku pernah merasakan sakit sebegitu dalam karenamu, Nathan. Aku harap tak ada lagi yang mengalami hal seperti itu. Aku yakin kau mengerti maksudku. Selesaikanlah urusan terdahulumu, jangan libatkan lebih banyak orang dalam satu kisah yang sama. Lakukan apa yang memang seharusnya kamu lakukan. Aku harap segalanya baik.
Tara.
Labels:
cerbung,
Tara Journey
Sunday, September 18, 2011
Dear Nathan
Dear Nathan,
Maaf ya, aku harus menangis...
Tapi sungguh aku sama sekali tidak menginginkannya jatuh di pipiku..
Aku tidak tahu, mungkin saja di sana kau merasa tersakiti...
Tapi, apa kau tahu aku juga menangis?
Nathan, perpisahan dan kehilangan adalah satu hal yang tak bisa dipisahkan...
Juga sama-sama hal yang selalu pahit di dunia ini...
Dan pasti akan terjadi, karena tidak ada yang abadi di dunia ini..
Tidak mengenal siapa yang berpisah, siapa yang memulai, dimana kejadiannya, juga bagaimana caranya...
Perpisahan pasti akan selalu menyakitkan dan pahit
Meski secara baik-baik, tetap akan terasa pahit.
Karena sejatinya tidak ada satupun orang di dunia ini yang ingin kehilangan.....
Apalagi aku,
Berada di sampingmu membuat aku sedikit lebih tenang..
Aku tahu tempat dimana aku berkeluh kesah selain Tuhan.....
Aku sungguh sama sekali tidak menginginkan perpisahan itu terjadi..
Tapi kembali lagi, tidak ada yang abadi di dunia ini...
Aku merasa keadaan akan lebih buruk jika kita tetap bersama...
Aku tak banyak bisa berkata-kata..
Aku hanya bisa berharap, bahwa ini adalah yang terbaik.
Semoga...
Entah sudah berapa kali aku merasakan ini.....
Maafkan aku, Nathan..
Aku sama sekali tak bermaksud menganggap semua ini permainan.....
Tapi kukira semuanya akan berbeda, tetapi pada kenyataannya semua sama...
Bahkan banyak hal-hal yang membuatku tersadar bahwa mungkin kita tidak akan pernah bisa bersatu...
Aku bahagia bisa membantumu lepas dari jeratan masa lalumu..
Aku bahagia melihat kamu bisa bernafas dengan lega..
Aku bahagia mendapatkan senyuman dan tawamu masih menghiasi wajahmu.....
Setidaknya, aku tidak sama sekali menyusahkanmu, Nathan.....
Maafkan aku...
-Tara-
Maaf ya, aku harus menangis...
Tapi sungguh aku sama sekali tidak menginginkannya jatuh di pipiku..
Aku tidak tahu, mungkin saja di sana kau merasa tersakiti...
Tapi, apa kau tahu aku juga menangis?
Nathan, perpisahan dan kehilangan adalah satu hal yang tak bisa dipisahkan...
Juga sama-sama hal yang selalu pahit di dunia ini...
Dan pasti akan terjadi, karena tidak ada yang abadi di dunia ini..
Tidak mengenal siapa yang berpisah, siapa yang memulai, dimana kejadiannya, juga bagaimana caranya...
Perpisahan pasti akan selalu menyakitkan dan pahit
Meski secara baik-baik, tetap akan terasa pahit.
Karena sejatinya tidak ada satupun orang di dunia ini yang ingin kehilangan.....
Apalagi aku,
Berada di sampingmu membuat aku sedikit lebih tenang..
Aku tahu tempat dimana aku berkeluh kesah selain Tuhan.....
Aku sungguh sama sekali tidak menginginkan perpisahan itu terjadi..
Tapi kembali lagi, tidak ada yang abadi di dunia ini...
Aku merasa keadaan akan lebih buruk jika kita tetap bersama...
Aku tak banyak bisa berkata-kata..
Aku hanya bisa berharap, bahwa ini adalah yang terbaik.
Semoga...
Entah sudah berapa kali aku merasakan ini.....
Maafkan aku, Nathan..
Aku sama sekali tak bermaksud menganggap semua ini permainan.....
Tapi kukira semuanya akan berbeda, tetapi pada kenyataannya semua sama...
Bahkan banyak hal-hal yang membuatku tersadar bahwa mungkin kita tidak akan pernah bisa bersatu...
Aku bahagia bisa membantumu lepas dari jeratan masa lalumu..
Aku bahagia melihat kamu bisa bernafas dengan lega..
Aku bahagia mendapatkan senyuman dan tawamu masih menghiasi wajahmu.....
Setidaknya, aku tidak sama sekali menyusahkanmu, Nathan.....
Maafkan aku...
-Tara-
Labels:
cerbung,
Tara Journey
Rasa Itu, Benarkah?
Nathan,
Sudah lama sekali rasanya kita tidak berjumpa. Hingga takdir yang tak pernah kuinginkan memutuskan kita untuk bertemu pada akhirnya. Kukira, hari kemarin itu merupakan hari terakhir pertemuan kita.
Nathan,
Entahlah...
Aku rasa aku memang sudah benar-benar berhasil mematikan rasa itu. Bukan aku tepatnya, keadaan. Aku tidak pernah mencoba sedikitpun berusaha menghilangkan rasa itu, tapi ia menghilang dengan sendirinya.
Pertemuan itu... Akupun merasa tidak ada yang harus aku lakukan. Aku tidak perlu menyapamu sedikitpun. Karena sungguh aku tidak ingin mencampuri hidupmu sedikitpun lagi.
Kau datang... Menanggalkan masa lalumu. Menghampiriku yang sedang terdiam di sisa-sisa keramaian. Entahlah, hatiku belum tersentuh rasa itu kembali.
Nathan,
Harus kuakui, kau berbeda, telah berubah. Kau telah meninggalkan masa lalu atau masa depanmu itu.. Lalu menghampiriku.
Maaf Nathan, aku belum siap untuk kau hampiri..
Aku sungguh masih baik-baik saja di sini tanpamu. Maaf, tapi rasa takut itu masih terus bersarang dalam diriku. Semuanya berkecamuk, tetapi bedanya, aku sudah jauh lebih tenang dibandingkan yang dulu.
Hari demi hari rasa itu tidak pernah muncul lagi meski kamu telah berusaha..
Meski terkadang hatiku selalu bertanya-tanya kenapa kamu baru datang hari ini?
Kenapa kamu pernah menyia-nyiakan kesabaran dan ketulusanku?
Kenapa kamu benar-benar berubah setelah aku kehilangan rasa itu?
Sungguh aku terkadang menyesali hal itu...
Andai saja kau lebih cepat, benar-benar berubah sebelum rasa itu benar-benar beranjak dari hatiku.......
Mungkin saja ada kesempatan lain yang terselip di dalamnya..
Hingga pada akhirnya ketika kau harus pergi lagi meninggalkanku..
Membiarkan aku dengan duniaku dan kau kembali pada duniamu..
Aku baru sadar bahwa aku masih membutuhkanmu, lebih tepatnya lagi-lagi aku membutuhkanmu..
Satu hal yang aku sadari, meski rasa itu telah pergi tetapi sampai saat ini aku merasa hanya kau laki-laki yang mengerti aku selain Ayahku..
Hanya kau yang paham, hanya kau yang benar-benar bisa peduli dalam jangka waktu lama..
Meski sepertinya aku dibutakan oleh hal itu..
Tapi sosok kakak yang ada pada dirimu tidak pernah sedikitpun pudar hingga saat ini..
Ya, meski rasa itu telah hilang..
Hari itu aku tidak bisa melepaskanmu pergi.
Mungkin benar kata orang, kita akan sadar betapa pentingnya seseorang ketika telah kehilangan dia..
Mungkin hal itu juga yang kau rasa ketika kau datang kembali dalam hidupku..
Aku tidak bisa membiarkanmu pergi, Nathan.
Maafkan aku, aku kembali lemah..
Tetapi, hari ini aku berpikir..
Apakah tidak bisa membiarkanmu pergi itu artinya aku kembali menyayangimu?
Entahlah, saat itupun aku tidak tahu apakah rasa itu telah kembali..
Nathan,
Maafkan aku....
Aku rasa... Rasa itu tidak pernah ada lagi..
Hanya aku yang tidak bisa mengartikannya..
Hanya aku yang tidak bisa membedakan antara kerinduan dan rasa sayang..
Nathan,
Hari ini aku tersadar...
Mungkin saja hari itu bukanlah hari dimana rasa yang dulu kembali lagi...
Melainkan hanya sekedar rasa rindu yang lama telah bersarang di hatiku, hanyalah rasa kesepian dan kehilangan....
Nathan,
Aku rasa diri kita masih sama-sama belum bisa mengerti...
Entahlah, sepertinya berapa kalipun kita bersama,
Aku rasa kita memang tidak ditakdirkan bersama....
Setiap saat aku merasa gagal...
Sampai detik inipun aku belum mengerti
Aku begitu merasa terusik
Aku merasa semuanya sudah tidak bisa seperti dulu seberapa kuatpun aku mencoba..
Entah mungkin mencoba mengembalikan rasa itu...
Mungkin aku selalu gagal......
Juga rasa kecewa yang berlarut-larut muncul..
Aku yakin suatu saat akan ada persoalan yang muncul kembali..
Hal yang berulang-ulang terjadi.
Nathan,
Maaf...
Atau mungkin..
Diriku yang memang belum siap........
Semuanya akan lebih baik jika aku sendiri bersama duniaku..
Tanpa kamu, Nathan
Maaf...
Sepertinya Tuhan memang tidak pernah menakdirkan kita untuk bersama...
Kalaupun tidak, suatu saat kita pasti akan bertemu lagi...
Terimakasih, Nathan..
Maafkan aku karena selalu gagal..
-Tara-
Sudah lama sekali rasanya kita tidak berjumpa. Hingga takdir yang tak pernah kuinginkan memutuskan kita untuk bertemu pada akhirnya. Kukira, hari kemarin itu merupakan hari terakhir pertemuan kita.
Nathan,
Entahlah...
Aku rasa aku memang sudah benar-benar berhasil mematikan rasa itu. Bukan aku tepatnya, keadaan. Aku tidak pernah mencoba sedikitpun berusaha menghilangkan rasa itu, tapi ia menghilang dengan sendirinya.
Pertemuan itu... Akupun merasa tidak ada yang harus aku lakukan. Aku tidak perlu menyapamu sedikitpun. Karena sungguh aku tidak ingin mencampuri hidupmu sedikitpun lagi.
Kau datang... Menanggalkan masa lalumu. Menghampiriku yang sedang terdiam di sisa-sisa keramaian. Entahlah, hatiku belum tersentuh rasa itu kembali.
Nathan,
Harus kuakui, kau berbeda, telah berubah. Kau telah meninggalkan masa lalu atau masa depanmu itu.. Lalu menghampiriku.
Maaf Nathan, aku belum siap untuk kau hampiri..
Aku sungguh masih baik-baik saja di sini tanpamu. Maaf, tapi rasa takut itu masih terus bersarang dalam diriku. Semuanya berkecamuk, tetapi bedanya, aku sudah jauh lebih tenang dibandingkan yang dulu.
Hari demi hari rasa itu tidak pernah muncul lagi meski kamu telah berusaha..
Meski terkadang hatiku selalu bertanya-tanya kenapa kamu baru datang hari ini?
Kenapa kamu pernah menyia-nyiakan kesabaran dan ketulusanku?
Kenapa kamu benar-benar berubah setelah aku kehilangan rasa itu?
Sungguh aku terkadang menyesali hal itu...
Andai saja kau lebih cepat, benar-benar berubah sebelum rasa itu benar-benar beranjak dari hatiku.......
Mungkin saja ada kesempatan lain yang terselip di dalamnya..
Hingga pada akhirnya ketika kau harus pergi lagi meninggalkanku..
Membiarkan aku dengan duniaku dan kau kembali pada duniamu..
Aku baru sadar bahwa aku masih membutuhkanmu, lebih tepatnya lagi-lagi aku membutuhkanmu..
Satu hal yang aku sadari, meski rasa itu telah pergi tetapi sampai saat ini aku merasa hanya kau laki-laki yang mengerti aku selain Ayahku..
Hanya kau yang paham, hanya kau yang benar-benar bisa peduli dalam jangka waktu lama..
Meski sepertinya aku dibutakan oleh hal itu..
Tapi sosok kakak yang ada pada dirimu tidak pernah sedikitpun pudar hingga saat ini..
Ya, meski rasa itu telah hilang..
Hari itu aku tidak bisa melepaskanmu pergi.
Mungkin benar kata orang, kita akan sadar betapa pentingnya seseorang ketika telah kehilangan dia..
Mungkin hal itu juga yang kau rasa ketika kau datang kembali dalam hidupku..
Aku tidak bisa membiarkanmu pergi, Nathan.
Maafkan aku, aku kembali lemah..
Tetapi, hari ini aku berpikir..
Apakah tidak bisa membiarkanmu pergi itu artinya aku kembali menyayangimu?
Entahlah, saat itupun aku tidak tahu apakah rasa itu telah kembali..
Nathan,
Maafkan aku....
Aku rasa... Rasa itu tidak pernah ada lagi..
Hanya aku yang tidak bisa mengartikannya..
Hanya aku yang tidak bisa membedakan antara kerinduan dan rasa sayang..
Nathan,
Hari ini aku tersadar...
Mungkin saja hari itu bukanlah hari dimana rasa yang dulu kembali lagi...
Melainkan hanya sekedar rasa rindu yang lama telah bersarang di hatiku, hanyalah rasa kesepian dan kehilangan....
Nathan,
Aku rasa diri kita masih sama-sama belum bisa mengerti...
Entahlah, sepertinya berapa kalipun kita bersama,
Aku rasa kita memang tidak ditakdirkan bersama....
Setiap saat aku merasa gagal...
Sampai detik inipun aku belum mengerti
Aku begitu merasa terusik
Aku merasa semuanya sudah tidak bisa seperti dulu seberapa kuatpun aku mencoba..
Entah mungkin mencoba mengembalikan rasa itu...
Mungkin aku selalu gagal......
Juga rasa kecewa yang berlarut-larut muncul..
Aku yakin suatu saat akan ada persoalan yang muncul kembali..
Hal yang berulang-ulang terjadi.
Nathan,
Maaf...
Atau mungkin..
Diriku yang memang belum siap........
Semuanya akan lebih baik jika aku sendiri bersama duniaku..
Tanpa kamu, Nathan
Maaf...
Sepertinya Tuhan memang tidak pernah menakdirkan kita untuk bersama...
Kalaupun tidak, suatu saat kita pasti akan bertemu lagi...
Terimakasih, Nathan..
Maafkan aku karena selalu gagal..
-Tara-
Labels:
cerbung,
Tara Journey
Sunday, March 6, 2011
The Last Words
Dear Nathan,
Kamu nggak usah khawatir aku di sini sendiri,
Aku punya teman-teman yang luar biasa,
Aku nggak sendiri..
Nathan, aku bahagia..
Bukan karena aku harus meninggalkan kamu dan masa lalu,
Bukan karena kamu punya yang lebih penting daripada aku,
Tapi karena aku nggak perlu menangis lagi..
Aku bisa tersenyum :)
Nathan,
Aku tahu...
Yang kamu inginkan dari dulu adalah supaya aku jadi gadis yang kuat, iya kan?
Aku sudah buktikan.
Aku bahagia aku bisa tersenyum di atas kebahagiaanmu pula..
Aku bahagia aku tak perlu menangis di atas kebahagiaan orang lain..
Aku bahagia kamu belajar memenuhi komitmen itu,
Aku bahagia kamu berani kembali memegang teguh komitmen yang kamu ambil..
Aku berharap ini bukan hanya sementara.
Tapi selamanya...
Bukan mengenai aku yang ingin kita bersama seperti dulu...
Sungguh aku nggak tau apa yang membuat aku bisa melupakan rasa itu...
Aku nggak pernah berusaha melupakan kamu, Nathan..
Tapi maaf, keadaan membuat aku melupakan rasa dan masa lalu itu.
Jiwaku bukan lagi sesuatu yang lemah seperti yang dulu
Aku sudah banyak belajar dari sana..
Aku pernah merasakan bagaimana aku harus bersabar..
Aku pernah belajar untuk percaya..
Dan yang lebih penting adalah...
Aku belajar berulang kali untuk bangkit dari kesakitan..
Kamu mengajarkan aku banyak hal
Apapun, aku tak bisa membencimu..
Karena aku sadar, dan sangat sadar
Membenci orang yang ingin kita lupakan sama sekali bukan cara terbaik untuk melupakannya...
Nathan,
Aku pikir lepas dan pindah adalah hal tersulit yang harus aku hadapi setelahnya...
Tapi aku salah..
Aku pikir aku harus memakan waktu lama untuk benar-benar melupakanmu,
Melupakan rasa itu tepatnya,
Tetapi lagi-lagi aku salah..
Semua itu membuat aku semakin kuat..
Entahlah aku tak tahu..
Mungkin aku mati rasa..
Kehilangan itu memang terasa begitu menusuk
Tapi tak pernah aku berusaha menyapamu sebelum kau menyapa terlebih dahulu...
Aku hanya tak ingin aku terlihat lemah dihadapanmu
Aku kuat, Nathan..
Kau tahu?
Terkadang aku merindukanmu..
Merindukan perhatian dan sikapmu..
Tapi entah kenapa hal itu tak lagi menghidupkan rasa yang kupunya dulu..
Rindu bukan berarti sayang, bukan?
Aku hanya rindu kamu sebagai kakakku..
Mungkin jika aku masih lemah, aku akan berusaha menghubungimu lagi..
Tapi nyatanya?
Tidak pernah.
Aku tak pernah menoleh padamu sama seperti kau tak pernah menoleh padaku...
Sama-sama tak ingin mengusik..
Nathan,
Jangan pikir aku tak pernah membaca status-statusmu di IM..
Selalu, aku selalu membacanya..
Terkadang aku hampir tak tega melihatmu sendiri..
Tapi hey, tahukah kamu? Aku juga sendiri.
Aku hanya tak ingin kamu datang hanya di saat kamu sendiri
Saat kamu kesepian...
Kamu sudah punya duniamu sendiri...
Terkadang aku rindu perhatianmu layaknya kakakku sendiri..
Kamu tahu aku begitu mendambakan seorang kakak..
Dan sampai saat ini, belum ada yang bisa menggantikan perhatian-perhatian itu..
Tapi sekali lagi, aku hanya rindu..
Rasa ini tetaplah mati...
Nathan,
Aku tahu kamu tidak benar-benar sendiri,
Kamu punya dia..
Sedangkan aku?
Aku hanya punya teman-temanku, keluargaku, juga Tuhanku..
Aku hanya ingin berpesan padamu,
Syukurilah apa yang sudah kamu dapat,
Jangan pernah merasa kamu orang yang paling tidak beruntung di dunia ini..
Padahal kenyataannya kamu punya dia, orang yang lebih kamu sayangi jauh sebelum ada aku..
Entahlah,
Aku hanya berharap ada orang lain yang benar-benar bisa menggantikan posisimu...
Nathan,
Ini mungkin pesan terakhirku...
Ya, mungkin, mungkin sebelum ucapan maaf idul fitri atau sebelum ujian..
Mungkin..
Jaga diri baik-baik di sana,
Aku mohon sadari baik-baik, mengapa semua orang menyalahkanmu...
Karena kamu yang memulai, kamu juga yang harus mengakhiri...
Aku harap suatu saat kamu akan membaca pesan ini...
Aku tahu, Tuhan memberikan ujian ini karena Ia ingin aku tahu bahwa aku berhak mendapat yang lebih baik..
Bahwa semua yang Tuhan beri tak pernah ada yang sia-sia..
Tara
Kamu nggak usah khawatir aku di sini sendiri,
Aku punya teman-teman yang luar biasa,
Aku nggak sendiri..
Nathan, aku bahagia..
Bukan karena aku harus meninggalkan kamu dan masa lalu,
Bukan karena kamu punya yang lebih penting daripada aku,
Tapi karena aku nggak perlu menangis lagi..
Aku bisa tersenyum :)
Nathan,
Aku tahu...
Yang kamu inginkan dari dulu adalah supaya aku jadi gadis yang kuat, iya kan?
Aku sudah buktikan.
Aku bahagia aku bisa tersenyum di atas kebahagiaanmu pula..
Aku bahagia aku tak perlu menangis di atas kebahagiaan orang lain..
Aku bahagia kamu belajar memenuhi komitmen itu,
Aku bahagia kamu berani kembali memegang teguh komitmen yang kamu ambil..
Aku berharap ini bukan hanya sementara.
Tapi selamanya...
Bukan mengenai aku yang ingin kita bersama seperti dulu...
Sungguh aku nggak tau apa yang membuat aku bisa melupakan rasa itu...
Aku nggak pernah berusaha melupakan kamu, Nathan..
Tapi maaf, keadaan membuat aku melupakan rasa dan masa lalu itu.
Jiwaku bukan lagi sesuatu yang lemah seperti yang dulu
Aku sudah banyak belajar dari sana..
Aku pernah merasakan bagaimana aku harus bersabar..
Aku pernah belajar untuk percaya..
Dan yang lebih penting adalah...
Aku belajar berulang kali untuk bangkit dari kesakitan..
Kamu mengajarkan aku banyak hal
Apapun, aku tak bisa membencimu..
Karena aku sadar, dan sangat sadar
Membenci orang yang ingin kita lupakan sama sekali bukan cara terbaik untuk melupakannya...
Nathan,
Aku pikir lepas dan pindah adalah hal tersulit yang harus aku hadapi setelahnya...
Tapi aku salah..
Aku pikir aku harus memakan waktu lama untuk benar-benar melupakanmu,
Melupakan rasa itu tepatnya,
Tetapi lagi-lagi aku salah..
Semua itu membuat aku semakin kuat..
Entahlah aku tak tahu..
Mungkin aku mati rasa..
Kehilangan itu memang terasa begitu menusuk
Tapi tak pernah aku berusaha menyapamu sebelum kau menyapa terlebih dahulu...
Aku hanya tak ingin aku terlihat lemah dihadapanmu
Aku kuat, Nathan..
Kau tahu?
Terkadang aku merindukanmu..
Merindukan perhatian dan sikapmu..
Tapi entah kenapa hal itu tak lagi menghidupkan rasa yang kupunya dulu..
Rindu bukan berarti sayang, bukan?
Aku hanya rindu kamu sebagai kakakku..
Mungkin jika aku masih lemah, aku akan berusaha menghubungimu lagi..
Tapi nyatanya?
Tidak pernah.
Aku tak pernah menoleh padamu sama seperti kau tak pernah menoleh padaku...
Sama-sama tak ingin mengusik..
Nathan,
Jangan pikir aku tak pernah membaca status-statusmu di IM..
Selalu, aku selalu membacanya..
Terkadang aku hampir tak tega melihatmu sendiri..
Tapi hey, tahukah kamu? Aku juga sendiri.
Aku hanya tak ingin kamu datang hanya di saat kamu sendiri
Saat kamu kesepian...
Kamu sudah punya duniamu sendiri...
Terkadang aku rindu perhatianmu layaknya kakakku sendiri..
Kamu tahu aku begitu mendambakan seorang kakak..
Dan sampai saat ini, belum ada yang bisa menggantikan perhatian-perhatian itu..
Tapi sekali lagi, aku hanya rindu..
Rasa ini tetaplah mati...
Nathan,
Aku tahu kamu tidak benar-benar sendiri,
Kamu punya dia..
Sedangkan aku?
Aku hanya punya teman-temanku, keluargaku, juga Tuhanku..
Aku hanya ingin berpesan padamu,
Syukurilah apa yang sudah kamu dapat,
Jangan pernah merasa kamu orang yang paling tidak beruntung di dunia ini..
Padahal kenyataannya kamu punya dia, orang yang lebih kamu sayangi jauh sebelum ada aku..
Entahlah,
Aku hanya berharap ada orang lain yang benar-benar bisa menggantikan posisimu...
Nathan,
Ini mungkin pesan terakhirku...
Ya, mungkin, mungkin sebelum ucapan maaf idul fitri atau sebelum ujian..
Mungkin..
Jaga diri baik-baik di sana,
Aku mohon sadari baik-baik, mengapa semua orang menyalahkanmu...
Karena kamu yang memulai, kamu juga yang harus mengakhiri...
Aku harap suatu saat kamu akan membaca pesan ini...
Aku tahu, Tuhan memberikan ujian ini karena Ia ingin aku tahu bahwa aku berhak mendapat yang lebih baik..
Bahwa semua yang Tuhan beri tak pernah ada yang sia-sia..
Tara
Labels:
cerbung,
Tara Journey
Saturday, January 22, 2011
Dream...
Mimpi itu datang...
Ya, mimpi yang sudah kuduga akan datang malam tadi...
Selepas subuh aku kembali terlelap dengan mata yang membengkak..
Aku menemukanmu di sana, dengan setting yang sama sekali tidak ku kenal....
Kau menangis di sana..
Tangisan yang sama seperti saat kau rindu rumah..
Aku menghampirimu..
Menanyakan keadaanmu
Menanyakan keputusan yang telah kau ambil..
Lantas dengan tegas kau jawab "Tidak!" masih dengan tangisan...
"Aku nggak akan ngebiarin aku sendiri tanpa kamu, kamu yang udah ada sewaktu aku down, sekarang saat aku udah punya banyak teman, apa aku sejahat itu untuk ninggalin kamu?"
Astaga, Nathan...
Kau lagi-lagi membuatku ikut menangis karena tangisanmu...
Selalu begitu...
Entah mungkin aku yang terlalu peka saat orang lain menangis...
Aku ingat saat aku menyuruh kau pergi jika aku menyusahkan..
Tetapi kau justru mengatakan kau tidak akan meninggalkanku...
Lalu bertanya di mana kau akan berkeluh kesah saat kau terjatuh lagi...
Siapa yang akan menenangkanmu dalam tangisan...
Aku masih ingat, Nathan...
Saat aku datang di hari ulang tahunmu..
Nyaris saja kiyta tidak akan bertemu..
Kalau saja hari itu aku tidak menaikkan kecepatan sepeda motorku..
Kalau saja aku tidak menangis saat itu karena teman-temanku...
Kalau saja aku tidak berjuang, dan ngotot untuk ke sana..
Mungkin kita tidak akan bertemu..
Pertemuan terakhir kita...
Ya, pertemuan terakhir
Tak akan ada hari-hari yang diisi oleh candamu...
Takkan kudengar gelak tawa yang khas itu...
Kau tahu? Bahkan teman-temanku bilang, aku sudah tertular cara tertawamu itu...
Sekarang aku harus mengulang cerita yang hanya aku ceritakan padamu itu kepada temanku yang lain...
Atau mungkin tidak..
Aku harus mengeluarkan keberanianku untuk mengatakannya pada mereka..
Atau mungkin tidak...
Aku harus berhenti tahu tentangmu..
Aku harus berhenti mencampuri urusanmu...
Aku harus berhenti cemburu..
Aku harus berhenti mencarimu..
Tetapi aku tidak akan berhenti menyayangimu...
Tak akan berhenti menyebut namamu dalam doaku...
Atau bahkan melupakanmu...
Hingga semua itu hilang dengan sendirinya...
Tetapi maaf...
Mungkin hal jahat yang tetap kulakukan adalah...
Menangis meski engkau telah bahagia tanpa aku..
Nathan, bahkan aku tidak ingin terbangun dari mimpi...
Karena mungkin hanya melaluinya aku dapat melihatmu hidup...
Nathan, bukan karena kita harus berpisah..
Aku harus menanggalkan namamu di tiap aku berdoa..
Aku akan tetap berdoa untukmu..
Supaya Tuhan memberimu kebahagiaan dengan ini..
Meski aku harus berkorban untuk tidak bahagia tanpamu...
Doaku menyertaimu, Nathan...
Tara
Ya, mimpi yang sudah kuduga akan datang malam tadi...
Selepas subuh aku kembali terlelap dengan mata yang membengkak..
Aku menemukanmu di sana, dengan setting yang sama sekali tidak ku kenal....
Kau menangis di sana..
Tangisan yang sama seperti saat kau rindu rumah..
Aku menghampirimu..
Menanyakan keadaanmu
Menanyakan keputusan yang telah kau ambil..
Lantas dengan tegas kau jawab "Tidak!" masih dengan tangisan...
"Aku nggak akan ngebiarin aku sendiri tanpa kamu, kamu yang udah ada sewaktu aku down, sekarang saat aku udah punya banyak teman, apa aku sejahat itu untuk ninggalin kamu?"
Astaga, Nathan...
Kau lagi-lagi membuatku ikut menangis karena tangisanmu...
Selalu begitu...
Entah mungkin aku yang terlalu peka saat orang lain menangis...
Aku ingat saat aku menyuruh kau pergi jika aku menyusahkan..
Tetapi kau justru mengatakan kau tidak akan meninggalkanku...
Lalu bertanya di mana kau akan berkeluh kesah saat kau terjatuh lagi...
Siapa yang akan menenangkanmu dalam tangisan...
Aku masih ingat, Nathan...
Saat aku datang di hari ulang tahunmu..
Nyaris saja kiyta tidak akan bertemu..
Kalau saja hari itu aku tidak menaikkan kecepatan sepeda motorku..
Kalau saja aku tidak menangis saat itu karena teman-temanku...
Kalau saja aku tidak berjuang, dan ngotot untuk ke sana..
Mungkin kita tidak akan bertemu..
Pertemuan terakhir kita...
Ya, pertemuan terakhir
Tak akan ada hari-hari yang diisi oleh candamu...
Takkan kudengar gelak tawa yang khas itu...
Kau tahu? Bahkan teman-temanku bilang, aku sudah tertular cara tertawamu itu...
Sekarang aku harus mengulang cerita yang hanya aku ceritakan padamu itu kepada temanku yang lain...
Atau mungkin tidak..
Aku harus mengeluarkan keberanianku untuk mengatakannya pada mereka..
Atau mungkin tidak...
Aku harus berhenti tahu tentangmu..
Aku harus berhenti mencampuri urusanmu...
Aku harus berhenti cemburu..
Aku harus berhenti mencarimu..
Tetapi aku tidak akan berhenti menyayangimu...
Tak akan berhenti menyebut namamu dalam doaku...
Atau bahkan melupakanmu...
Hingga semua itu hilang dengan sendirinya...
Tetapi maaf...
Mungkin hal jahat yang tetap kulakukan adalah...
Menangis meski engkau telah bahagia tanpa aku..
Nathan, bahkan aku tidak ingin terbangun dari mimpi...
Karena mungkin hanya melaluinya aku dapat melihatmu hidup...
Nathan, bukan karena kita harus berpisah..
Aku harus menanggalkan namamu di tiap aku berdoa..
Aku akan tetap berdoa untukmu..
Supaya Tuhan memberimu kebahagiaan dengan ini..
Meski aku harus berkorban untuk tidak bahagia tanpamu...
Doaku menyertaimu, Nathan...
Tara
Labels:
cerbung,
Tara Journey
Friday, January 21, 2011
Nathan, Should it End?
Aku belum berhenti menyayangimu hingga detik ini..
Aku tahu (lagi-lagi) semua pasti terjadi..
Aku tahu keegoisan yang amat sangat luar biasa melanda diriku..
Aku hanya ingin waktu bersamamu, hanya boleh kau dan aku..
Salahkah? Mungkin memang salah
Ya, memang salah.
Aku ingin meyakinkan dirimu bahwa aku baik-baik saja di sampingmu,
Kamu bukan beban hidupku...
Karena itulah aku tak pernah benar-benar meninggalkanmu..
Nathan, bukan hakku lagi untuk mempertahankan..
Aku tak pernah ingin mengambil keputusan...
Apapun itu, aku hanya takut akan sebuah penyesalan...
Aku memang bodoh, ya, aku memang tidak pernah sempurna..
Yang paling aku takutkan adalah menjadi beban dalam hidupmu...
Seonggok sampah yang tidak berguna...
Aku serasa terhempas,
Aku sakit,
Aku takut...
Keberadaanku hanya menjadi beban di hidup orang lain..
Aku takut........
Tetapi sayangnya, kau tak pernah memintaku untuk tetap tinggal..
Untuk meyakinkanku bahwa aku bukan beban dalam hidupmu...
Bukan seseorang yang menyusahkan hidupmu...
Bukan seseorang yang sudah tidak berguna...
Dirimu adalah apa yang kamu pikirkan..
Aku ingat, kata-kata itu yang selalu kau ucapkan..
Tapi apa kau tahu?
Terkadang kau butuh orang lain untuk menata hatimu...
Aku lebih memilih kamu bahagia meski taruhannya aku atau kamu harus pergi...
Aku hanya takut....
Takut...
Kau tak pernah sedikitpun meyakinkan aku yang sedang dalam ketakutan ini...
Kau tahu aku butuh dirimu...
Untuk tetap bertahan,
Untuk mengatakan kau masih membutuhkan aku....
Tapi sayangnya itu tidak pernah terjadi...
Aku semakin kehilangan rasa percaya diri...
Mungkin memang pada kenyataanya kau sudah tidak membutuhkan aku..
Mungkin kenyataannya aku memang sudah menjadi bebanmu..
Mungkin memang aku hanya membuat segalanya berantakan....
Kehilangan dirimu seperti kehilangan seorang sahabat..
Tempat aku berbagi suka dan duka...
Tempat aku lebih banyak meluapkan tangisan, bahkan ketika sahabat-sahabatku tidak ada..
Bahkan saat aku takut bercerita kepada teman-temanku..
Hanya kamu yang bisa aku andalkan..
Kehilangan dirimu seperti kehilangan seorang kakak...
Tempat aku meminta masukan...
Tempat aku belajar banyak mengenai hidup,,,
Tempat aku melihat sebuah kedewasaan..
Bahkan sesuatu yang kekanakan..
Kemanjaan..
Mungkin setelah ini aku tak akan menemukan ponselku berdering..
Mendengar isakanmu...
Aku rindu gelak tawamu yang khas itu...
Bahkan isakanmu..
Kini kita ada dalam satu kota yang sama..
Tetapi tak satu kalipun kita bertemu..
Bahkan untuk melihat wajahmu saja mungkin sudah tidak akan ada kesempatan itu...
Aku sudah nyaman berkeluh kesah denganmu..
Dan ketika aku harus berkeluh kesah, aku akan kehilangan itu...
Tak tahu di mana aku harus bercerita, bahkan kepada sahabatku pun sedikit terasa ganjil...
Nathan, aku masih ingat...
Di hari itu aku janji membawakanmu teriyaki..
Sedang kau membawakanku fettucini..
Aku ingat kau janji akan memberikan kado kenangan ulang tahun setiba di Jakarta...
Tapi bahkan mungkin tidak akan ada kenang-kenangan itu...
Aku tentu bukan orang yang setelah berpisah kemudian mencari orang lain...
Menggantikanmu dengan orang lain, lalu mengganti foto-fotomu dengan fotonya..
Mungkin itu pilihan terbaik untuk melupakan sebuah masa lalu...
Tapi aku tidak ingin melakukannya...
Kenangan bersamamu sudah terukir jelas di hatiku...
Tidak akan aku lupakan, Nathan...
Kini aku memberikanmu kebebasan untuk memilih...
Tentu dengan kepala dinginmu..
Apapun yang bisa membuatmu lebih bahagia, aku akan ikhlaskan...
Lebih baik aku pergi daripada harus melihat seseorang tersiksa karena aku...
Maafkan semua kesensitifanku, keegoisanku, kebodohanku...
Kini sudah tidak ada lagi orang bodoh di hidupmu lagi, kan, Nathan?
Dengan-masih-menyayangimu,
Tara
Aku tahu (lagi-lagi) semua pasti terjadi..
Aku tahu keegoisan yang amat sangat luar biasa melanda diriku..
Aku hanya ingin waktu bersamamu, hanya boleh kau dan aku..
Salahkah? Mungkin memang salah
Ya, memang salah.
Aku ingin meyakinkan dirimu bahwa aku baik-baik saja di sampingmu,
Kamu bukan beban hidupku...
Karena itulah aku tak pernah benar-benar meninggalkanmu..
Nathan, bukan hakku lagi untuk mempertahankan..
Aku tak pernah ingin mengambil keputusan...
Apapun itu, aku hanya takut akan sebuah penyesalan...
Aku memang bodoh, ya, aku memang tidak pernah sempurna..
Yang paling aku takutkan adalah menjadi beban dalam hidupmu...
Seonggok sampah yang tidak berguna...
Aku serasa terhempas,
Aku sakit,
Aku takut...
Keberadaanku hanya menjadi beban di hidup orang lain..
Aku takut........
Tetapi sayangnya, kau tak pernah memintaku untuk tetap tinggal..
Untuk meyakinkanku bahwa aku bukan beban dalam hidupmu...
Bukan seseorang yang menyusahkan hidupmu...
Bukan seseorang yang sudah tidak berguna...
Dirimu adalah apa yang kamu pikirkan..
Aku ingat, kata-kata itu yang selalu kau ucapkan..
Tapi apa kau tahu?
Terkadang kau butuh orang lain untuk menata hatimu...
Aku lebih memilih kamu bahagia meski taruhannya aku atau kamu harus pergi...
Aku hanya takut....
Takut...
Kau tak pernah sedikitpun meyakinkan aku yang sedang dalam ketakutan ini...
Kau tahu aku butuh dirimu...
Untuk tetap bertahan,
Untuk mengatakan kau masih membutuhkan aku....
Tapi sayangnya itu tidak pernah terjadi...
Aku semakin kehilangan rasa percaya diri...
Mungkin memang pada kenyataanya kau sudah tidak membutuhkan aku..
Mungkin kenyataannya aku memang sudah menjadi bebanmu..
Mungkin memang aku hanya membuat segalanya berantakan....
Kehilangan dirimu seperti kehilangan seorang sahabat..
Tempat aku berbagi suka dan duka...
Tempat aku lebih banyak meluapkan tangisan, bahkan ketika sahabat-sahabatku tidak ada..
Bahkan saat aku takut bercerita kepada teman-temanku..
Hanya kamu yang bisa aku andalkan..
Kehilangan dirimu seperti kehilangan seorang kakak...
Tempat aku meminta masukan...
Tempat aku belajar banyak mengenai hidup,,,
Tempat aku melihat sebuah kedewasaan..
Bahkan sesuatu yang kekanakan..
Kemanjaan..
Mungkin setelah ini aku tak akan menemukan ponselku berdering..
Mendengar isakanmu...
Aku rindu gelak tawamu yang khas itu...
Bahkan isakanmu..
Kini kita ada dalam satu kota yang sama..
Tetapi tak satu kalipun kita bertemu..
Bahkan untuk melihat wajahmu saja mungkin sudah tidak akan ada kesempatan itu...
Aku sudah nyaman berkeluh kesah denganmu..
Dan ketika aku harus berkeluh kesah, aku akan kehilangan itu...
Tak tahu di mana aku harus bercerita, bahkan kepada sahabatku pun sedikit terasa ganjil...
Nathan, aku masih ingat...
Di hari itu aku janji membawakanmu teriyaki..
Sedang kau membawakanku fettucini..
Aku ingat kau janji akan memberikan kado kenangan ulang tahun setiba di Jakarta...
Tapi bahkan mungkin tidak akan ada kenang-kenangan itu...
Aku tentu bukan orang yang setelah berpisah kemudian mencari orang lain...
Menggantikanmu dengan orang lain, lalu mengganti foto-fotomu dengan fotonya..
Mungkin itu pilihan terbaik untuk melupakan sebuah masa lalu...
Tapi aku tidak ingin melakukannya...
Kenangan bersamamu sudah terukir jelas di hatiku...
Tidak akan aku lupakan, Nathan...
Kini aku memberikanmu kebebasan untuk memilih...
Tentu dengan kepala dinginmu..
Apapun yang bisa membuatmu lebih bahagia, aku akan ikhlaskan...
Lebih baik aku pergi daripada harus melihat seseorang tersiksa karena aku...
Maafkan semua kesensitifanku, keegoisanku, kebodohanku...
Kini sudah tidak ada lagi orang bodoh di hidupmu lagi, kan, Nathan?
Dengan-masih-menyayangimu,
Tara
Labels:
cerbung,
Tara Journey
Monday, January 10, 2011
Untukmu, Nathan
Dear Nathan,
Aku tahu tidak mudah menjalani semua ini...
Aku tau cepat atau lambat semuanya akan terjadi..
Surat ini mewakilkan permintaan maafku yang tak sanggup kuungkap langsung kepadamu..
Bukan maaf karena apa yang kamu pikirkan,
tetapi maaf karena sudah menjadi beban dalam hidupmu..
Aku sadar, kehadiranku kini tak lebih dari seonggok sampah yang sudah tak berguna..
Jujur, aku merasa sudah tidak ada gunanya lagi buat kamu..
Aku kecewa, kecewa..
Aku memang harus terima jika yang harus keluar dari mulutmu adalah bahwa aku menambah beban hidupmu..
Aku tak bisa menolak kalimat itu, mungkin memang benar...
Aku kecewa saat kamu lebih mudah meluangkan waktumu bersama teman-teman dan dunia barumu...
Aku merasa terabaikan..
Aku juga tak tahu,
apa kau masih ingat saat kau terjatuh?
Saat kau tersedu-sedu?
Saat kau terisak di telepon..
Saat bahkan untuk mengucap satu kata saja sudah sulit bagimu..
Saat kau tak mengizinkan aku untuk menyudahi pembicaraan di telepon..
Saat kau berharap aku dapat menenangkanmu..
Ingatkah kamu?
Saat kamu hanya meluangkan hari itu bersamaku?
Saat bahkan aku juga ikut menangis diam-diam..
Kini biarlah semuanya hanya menjadi kenangan....
Aku tak ingin jadi beban untuk siapapun..
Aku merasa kehilangan keyakinan...
Aku hilang arah..
Saat aku tak lebih dari seorang yang tidak berguna..
Aku terlalu takut untuk memulai percakapan tiap kali namamu muncul di sudut kanan bawah..
Bahkan saat hanya namamu satu-satunya yang ada di daftar online yahoo mesengger..
Aku terlalu takut untuk menyapamu..
Takut untuk mengirim pesan...
Semenjak dirimu 180 derajat berbeda..
Karena hatiku sudah berulang kali merasa kelu saat didera sikapmu yang dingin..
Aku takut ada di antara kita yang tersakiti...
Satu yang harus kau ketahui..
Jika memang aku sudah tidak peduli, aku tak akan pernah berusaha mengingatkanmu,
tak pernah mencoba memberanikan untuk mengatakannya...
Jika kau ingin dimengerti, maka cobalah mengerti orang lain......
Lupakan aku jika memang aku tidak lebih dari seorang yang tak berguna dalam hidupmu...
Sakit rasanya hanya jadi sampah di hidup orang lain...
Aku tahu tidak mudah menjalani semua ini...
Aku tau cepat atau lambat semuanya akan terjadi..
Surat ini mewakilkan permintaan maafku yang tak sanggup kuungkap langsung kepadamu..
Bukan maaf karena apa yang kamu pikirkan,
tetapi maaf karena sudah menjadi beban dalam hidupmu..
Aku sadar, kehadiranku kini tak lebih dari seonggok sampah yang sudah tak berguna..
Jujur, aku merasa sudah tidak ada gunanya lagi buat kamu..
Aku kecewa, kecewa..
Aku memang harus terima jika yang harus keluar dari mulutmu adalah bahwa aku menambah beban hidupmu..
Aku tak bisa menolak kalimat itu, mungkin memang benar...
Aku kecewa saat kamu lebih mudah meluangkan waktumu bersama teman-teman dan dunia barumu...
Aku merasa terabaikan..
Aku juga tak tahu,
apa kau masih ingat saat kau terjatuh?
Saat kau tersedu-sedu?
Saat kau terisak di telepon..
Saat bahkan untuk mengucap satu kata saja sudah sulit bagimu..
Saat kau tak mengizinkan aku untuk menyudahi pembicaraan di telepon..
Saat kau berharap aku dapat menenangkanmu..
Ingatkah kamu?
Saat kamu hanya meluangkan hari itu bersamaku?
Saat bahkan aku juga ikut menangis diam-diam..
Kini biarlah semuanya hanya menjadi kenangan....
Aku tak ingin jadi beban untuk siapapun..
Aku merasa kehilangan keyakinan...
Aku hilang arah..
Saat aku tak lebih dari seorang yang tidak berguna..
Aku terlalu takut untuk memulai percakapan tiap kali namamu muncul di sudut kanan bawah..
Bahkan saat hanya namamu satu-satunya yang ada di daftar online yahoo mesengger..
Aku terlalu takut untuk menyapamu..
Takut untuk mengirim pesan...
Semenjak dirimu 180 derajat berbeda..
Karena hatiku sudah berulang kali merasa kelu saat didera sikapmu yang dingin..
Aku takut ada di antara kita yang tersakiti...
Satu yang harus kau ketahui..
Jika memang aku sudah tidak peduli, aku tak akan pernah berusaha mengingatkanmu,
tak pernah mencoba memberanikan untuk mengatakannya...
Jika kau ingin dimengerti, maka cobalah mengerti orang lain......
Lupakan aku jika memang aku tidak lebih dari seorang yang tak berguna dalam hidupmu...
Sakit rasanya hanya jadi sampah di hidup orang lain...
Labels:
cerbung,
Tara Journey
Tuesday, January 4, 2011
Mungkin...
Mungkin bukan sesuatu yang harus disesali ketika Tara akhirnya memutuskan untuk kembali bersama Nathan. Bukan sebuah kesalahan pula Nathan menginginkan Tara ada di sampingnya lagi. Tetapi ini adalah sebuah pertanggungjawaban atas segala yang sudah mereka tetapkan bersama. Prinsip keterbukaan dan kunci komunikasi yang menjadi bumbu-bumbu harum hari-hari mereka. Tapi siapa sangka segala sesuatu kini telah berubah bahkan 180 derajat. Ya, segalanya takkan selalu berbuah manis. Ada kalanya pohon yang semakin tinggi itu diterkam angin dahsyat, ada kalanya buah yang dinanti-nanti terlalu muda untuk dipetik atau dilupakan hingga teronggok jatuh sendirinya lalu membusuk.
Jarak bukanlah sebuah masalah besar bagi Tara, Tara yakin, ketika mereka sudah berpegangan kuat pada prinsip yang ia namakan "truth, loyal and honest", semua akan baik-baik saja. Ia sadar betul, ia sangat membutuhkan sosok Nathan, tetapi semua takkan bisa selamanya begitu. Kisah tujuh bulan lalu yang sudah ia kunci rapat-rapat membuatnya belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu. Ia bangkit, tak ingin lagi menoleh ke belakang, takkan membiarkan luka lama menghantuinya. Terkadang ia bahkan tak sadar, bahwa memutuskan semua itu justru membuatnya terperosok dalam jurang yang lebih dalam. Tetapi hidup harus tetap berjalan, katanya. Masa lalu biarlah menjadi pelajaran berharga bagi dirinya dan Nathan. Tak ada yang pernah menduga jika badai akan tiba-tiba muncul di siang hari yang cerah.
Menjalani semuanya, memperbaiki masa lalu, mungkin itu yang dilakukan Tara.
Namun kini badai itu datang, mimpi buruk itu menjadi nyata. Nathan berubah, kesibukannya merubah ia menjadi orang yang tak lagi dikenal Tara. Tara tak begitu mempermasalahkan, yang selalu ia permasalahkan adalah perhatiannya yang selalu diabaikan Nathan. Nathan tak pernah mengerti, kegelisahan dan kekhawatiran Tara yang begitu mendalam yang membuat ia membagi banyak perhantiannya pada Nathan.
Nathan sendiri belakangan ini lebih sering keluar malam, menyibukkan diri. Yang ia katakan, ia sibuk dengan tugas-tugasnya. Tentu Tara maklum, tapi apa salah jika seorang yang punya hubungan spesial menginginkan ada satu sama lain? Tara rela menanti dan bersabar, tapi yang ia lihat justru tak ada hasilnya. Ia hanya butuh Nathan paling tidak sedikit saja untuk jadi teman berbaginya, tempat ia meluapkan tangisannya, tempat ia mendapat sebuah ketenangan. Kini Nathan benar-benar jauh dari sosok yang duru Tara kenal. Ia bisa, jika ia mau meluangkan waktunya, tetapi ia justru menyibukkan dirinya saat jam kosong tiba.
Lalu buat apa Tara ada dalam hidupnya? Tara merasa disia-siakan, merasa seperti sampah, seperti boneka. Yang akan diminta hadir saat Nathan sedang jatuh tersungkur, lalu setelah itu ia dikembalikan dan takkan disentuh lagi. Tara mengutuk dirinya kenapa ia merasa jadi tidak berguna. Buat apa dia terus menunggu, jika orang di sana sudah tidak lagi membutuhkannya? Lalu, apa yang ia dapat setelah penantian itu?
Sudah beberapa hari komunikasi Tara dan Nathan tak berjalan seharusnya. Ia rasa semua prinsip itu telah pudar. Apalah arti semua ini? Ketika semuanya semakin menjadi bumerang dalam hidupnya, ketika harusnya ia menikmati hari-hari pertama sekolahnya, ketika seharusnya Nathan mendapat dukungan penuh dari Tara untuk menempuh ujian, semuanya tak terkendali. Tara diam, entah berapa lama ia menyembunyikan rasa sakitnya sendiri, sudah berapa lama ia menahan dirinya. Namun Nathan tak juga pernah merasa bersalah telah menyakiti hati Tara. Mungkin segalanya akan berakhir. Hari-hari Tara mulai diisi tangisan. Ia tahu, suatu saat, semua yang telah ia simpan akan meledak. Erupsi-erupsi yang mulai bermunculan akan berubah menjadi eksplosi yang siap meledak kapanpun. Ia tahu semua akan berakhir, ia tahu, ia tahu pasti. Tapi satu yang Tara pegang, meskipun segalanya harus berakhir kembali, ia tak ingin dirinya yang mengusulkan untuk mengakhiri semua yang telah mereka lalui. Ia akan diam meski takkan menahan jika memang Nathan yang ingin mengakhirinya. Ia akan mencoba ikhlas, namun ia tetap tak ingin mengusulkan dari mulutnya sendiri, karena tak ingin lagi ada penyesalan. Ia tahu, setiap penyesalan, selalu datang di akhir, dan ia tak ingin merasakan penyesalan yang sama.
Selasa siang saat bel sekolah, Tara turun ke lantai dasar, terus berjalan santai, sesekali menyapa atau membalas sapaan, berhenti di koridor untuk sekedar bercanda atau bertanya, kemudian berjalan lagi dengan memanggul tas ranselnya. Ia bertemu salah seorang kawannya di depan ruang guru, sedikit berbincang mengenai rencana perginya siang itu. Kemudian ikut duduk di koridor. Matanya mengitari sekeliling sekolah, sesekali memperhatikan orang yang lalu lalang di hadapannya, kemudian mata itu terhenti pada sesosok seorang wanita berjilbab merah. Tara masih tidak yakin, matanya mengikuti arah wanita itu berjalan, kemudian, ya, tepat sekali dugaannya. Seketika itu jantungnya terasa nyeri, berdetak jauh lebih cepat dan itu sangat sakit. Tuhan, kenapa harus lagi? Wanita yang ia lihat adalah Della. Ya, sesosok perempuan yang sudah lama tak dilihatnya. Melihatnya, membuat luka batin Tara yang sudah tertutup mengelupas lagi. Tara sudah tidak pernah lagi membahas mengenai perempuan itu saat ia dan Nathan sedang dalam masalah. Ia tak pernah lagi menyinggung-nyinggung soal Della. Ia ingin melupakan masa lalu itu, melupakan sakit itu. Melihatnya sama saja seperti mengorek luka lama. Pertikaian itu, semua itu, menghentakkan jantung Tara, membuat ia mengecil layaknya masa lalu itu. Dimana dengan rendahnya ia disebut parasit, perebut pacar orang. Sungguh, itu sangat menyakitkan, yang membuat semuanya berantakan, hidupnya berantakan. Tara sudah berjuang keras melupakannya. Tak berlebihan ketika jantungnya begitu sakit, kelemahan Tara saat sakit hatinya muncul. Begitu perih, bahkan seorang teman mengingatkan, "Waktu lo nangis di masjid itu kan, Tar, yang soal dia?". Hah, Tara rasanya ingin mengasingkan diri lagi. Rasanya begitu ruwet ketika kembali pada masa lalu.
Jarak bukanlah sebuah masalah besar bagi Tara, Tara yakin, ketika mereka sudah berpegangan kuat pada prinsip yang ia namakan "truth, loyal and honest", semua akan baik-baik saja. Ia sadar betul, ia sangat membutuhkan sosok Nathan, tetapi semua takkan bisa selamanya begitu. Kisah tujuh bulan lalu yang sudah ia kunci rapat-rapat membuatnya belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu. Ia bangkit, tak ingin lagi menoleh ke belakang, takkan membiarkan luka lama menghantuinya. Terkadang ia bahkan tak sadar, bahwa memutuskan semua itu justru membuatnya terperosok dalam jurang yang lebih dalam. Tetapi hidup harus tetap berjalan, katanya. Masa lalu biarlah menjadi pelajaran berharga bagi dirinya dan Nathan. Tak ada yang pernah menduga jika badai akan tiba-tiba muncul di siang hari yang cerah.
Menjalani semuanya, memperbaiki masa lalu, mungkin itu yang dilakukan Tara.
Namun kini badai itu datang, mimpi buruk itu menjadi nyata. Nathan berubah, kesibukannya merubah ia menjadi orang yang tak lagi dikenal Tara. Tara tak begitu mempermasalahkan, yang selalu ia permasalahkan adalah perhatiannya yang selalu diabaikan Nathan. Nathan tak pernah mengerti, kegelisahan dan kekhawatiran Tara yang begitu mendalam yang membuat ia membagi banyak perhantiannya pada Nathan.
Nathan sendiri belakangan ini lebih sering keluar malam, menyibukkan diri. Yang ia katakan, ia sibuk dengan tugas-tugasnya. Tentu Tara maklum, tapi apa salah jika seorang yang punya hubungan spesial menginginkan ada satu sama lain? Tara rela menanti dan bersabar, tapi yang ia lihat justru tak ada hasilnya. Ia hanya butuh Nathan paling tidak sedikit saja untuk jadi teman berbaginya, tempat ia meluapkan tangisannya, tempat ia mendapat sebuah ketenangan. Kini Nathan benar-benar jauh dari sosok yang duru Tara kenal. Ia bisa, jika ia mau meluangkan waktunya, tetapi ia justru menyibukkan dirinya saat jam kosong tiba.
Lalu buat apa Tara ada dalam hidupnya? Tara merasa disia-siakan, merasa seperti sampah, seperti boneka. Yang akan diminta hadir saat Nathan sedang jatuh tersungkur, lalu setelah itu ia dikembalikan dan takkan disentuh lagi. Tara mengutuk dirinya kenapa ia merasa jadi tidak berguna. Buat apa dia terus menunggu, jika orang di sana sudah tidak lagi membutuhkannya? Lalu, apa yang ia dapat setelah penantian itu?
Sudah beberapa hari komunikasi Tara dan Nathan tak berjalan seharusnya. Ia rasa semua prinsip itu telah pudar. Apalah arti semua ini? Ketika semuanya semakin menjadi bumerang dalam hidupnya, ketika harusnya ia menikmati hari-hari pertama sekolahnya, ketika seharusnya Nathan mendapat dukungan penuh dari Tara untuk menempuh ujian, semuanya tak terkendali. Tara diam, entah berapa lama ia menyembunyikan rasa sakitnya sendiri, sudah berapa lama ia menahan dirinya. Namun Nathan tak juga pernah merasa bersalah telah menyakiti hati Tara. Mungkin segalanya akan berakhir. Hari-hari Tara mulai diisi tangisan. Ia tahu, suatu saat, semua yang telah ia simpan akan meledak. Erupsi-erupsi yang mulai bermunculan akan berubah menjadi eksplosi yang siap meledak kapanpun. Ia tahu semua akan berakhir, ia tahu, ia tahu pasti. Tapi satu yang Tara pegang, meskipun segalanya harus berakhir kembali, ia tak ingin dirinya yang mengusulkan untuk mengakhiri semua yang telah mereka lalui. Ia akan diam meski takkan menahan jika memang Nathan yang ingin mengakhirinya. Ia akan mencoba ikhlas, namun ia tetap tak ingin mengusulkan dari mulutnya sendiri, karena tak ingin lagi ada penyesalan. Ia tahu, setiap penyesalan, selalu datang di akhir, dan ia tak ingin merasakan penyesalan yang sama.
Selasa siang saat bel sekolah, Tara turun ke lantai dasar, terus berjalan santai, sesekali menyapa atau membalas sapaan, berhenti di koridor untuk sekedar bercanda atau bertanya, kemudian berjalan lagi dengan memanggul tas ranselnya. Ia bertemu salah seorang kawannya di depan ruang guru, sedikit berbincang mengenai rencana perginya siang itu. Kemudian ikut duduk di koridor. Matanya mengitari sekeliling sekolah, sesekali memperhatikan orang yang lalu lalang di hadapannya, kemudian mata itu terhenti pada sesosok seorang wanita berjilbab merah. Tara masih tidak yakin, matanya mengikuti arah wanita itu berjalan, kemudian, ya, tepat sekali dugaannya. Seketika itu jantungnya terasa nyeri, berdetak jauh lebih cepat dan itu sangat sakit. Tuhan, kenapa harus lagi? Wanita yang ia lihat adalah Della. Ya, sesosok perempuan yang sudah lama tak dilihatnya. Melihatnya, membuat luka batin Tara yang sudah tertutup mengelupas lagi. Tara sudah tidak pernah lagi membahas mengenai perempuan itu saat ia dan Nathan sedang dalam masalah. Ia tak pernah lagi menyinggung-nyinggung soal Della. Ia ingin melupakan masa lalu itu, melupakan sakit itu. Melihatnya sama saja seperti mengorek luka lama. Pertikaian itu, semua itu, menghentakkan jantung Tara, membuat ia mengecil layaknya masa lalu itu. Dimana dengan rendahnya ia disebut parasit, perebut pacar orang. Sungguh, itu sangat menyakitkan, yang membuat semuanya berantakan, hidupnya berantakan. Tara sudah berjuang keras melupakannya. Tak berlebihan ketika jantungnya begitu sakit, kelemahan Tara saat sakit hatinya muncul. Begitu perih, bahkan seorang teman mengingatkan, "Waktu lo nangis di masjid itu kan, Tar, yang soal dia?". Hah, Tara rasanya ingin mengasingkan diri lagi. Rasanya begitu ruwet ketika kembali pada masa lalu.
Labels:
cerbung,
Tara Journey
Saturday, October 2, 2010
Sepucuk Surat Untuk Tara...
To: Tara
Assalamualaikum wr.wb.
Tara....
Surat ini kaka tulis buat Tara karena kaka sulit bicara banyak, ngungkapin semuanya ke Tara...
Maaf...
Kaka cuma mau bilang Ra, kaka ngerasa ga enak sama Tara... sama Ata....
Kaka takut cuma jadi benalu dan malah bikin pertemanan kalian berantakan...
waktu Tara sms Ata kemarin...
Kaka sedih Ra... kaka ngerasa gak ada artinya buat Tara...
Kayak benda yanng bisa Tara kasih ke siapa aja....
Maaf....
Tara gak usah ngerasa gak enak sama kaka...
Kalo emang Tara gak nyaman dan gak mau ada yang namanya Nathan dalam hidup Tara...
Kaka akan pergi walau sulit...
Dan cukup menjaga Tara tanpa Tara sadar...
Mungkin kaka jahat tapi Tara mesti tau satu hal...
Semua hal yang orang bilang jahat soal sikap kaka...
Itu semua kaka lakuin buat orang lain yang kaka sayang termasuk kamu...
Sekali lagi maafin kaka Ra...
Keputusan semua ada di Tara...
Maaf kalo tulisan kaka jelek
1 lagi surat ini kaka minta orang lain jangan tau ya...
Makasih buat semuanya.....
Wassalamualaikum wr.wb
Nathan
P.S.
Tulisanmu lebih dari bagus untuk ukuran seorang laki-laki :D dan terimakasih telah menyempatkan waktumu untuk menulis surat, hal yang tak pernah kulakukan semenjak sekolah dasar :)
Tara
Assalamualaikum wr.wb.
Tara....
Surat ini kaka tulis buat Tara karena kaka sulit bicara banyak, ngungkapin semuanya ke Tara...
Maaf...
Kaka cuma mau bilang Ra, kaka ngerasa ga enak sama Tara... sama Ata....
Kaka takut cuma jadi benalu dan malah bikin pertemanan kalian berantakan...
waktu Tara sms Ata kemarin...
Kaka sedih Ra... kaka ngerasa gak ada artinya buat Tara...
Kayak benda yanng bisa Tara kasih ke siapa aja....
Maaf....
Tara gak usah ngerasa gak enak sama kaka...
Kalo emang Tara gak nyaman dan gak mau ada yang namanya Nathan dalam hidup Tara...
Kaka akan pergi walau sulit...
Dan cukup menjaga Tara tanpa Tara sadar...
Mungkin kaka jahat tapi Tara mesti tau satu hal...
Semua hal yang orang bilang jahat soal sikap kaka...
Itu semua kaka lakuin buat orang lain yang kaka sayang termasuk kamu...
Sekali lagi maafin kaka Ra...
Keputusan semua ada di Tara...
Maaf kalo tulisan kaka jelek
1 lagi surat ini kaka minta orang lain jangan tau ya...
Makasih buat semuanya.....
Wassalamualaikum wr.wb
Nathan
P.S.
Tulisanmu lebih dari bagus untuk ukuran seorang laki-laki :D dan terimakasih telah menyempatkan waktumu untuk menulis surat, hal yang tak pernah kulakukan semenjak sekolah dasar :)
Tara
Labels:
cerbung,
Tara Journey
Tuesday, September 28, 2010
White Roses for White Love
Dunia penuh dengan bintang-bintang yang gemerlap, cantik, dan indah. Begitulah kata-kata yang mewakilkan perasaan seorang Tara saat ia jatuh cinta. Dunia penuh senyuman, bayangannya pada hal-hal buruk seketika berubah menjadi imajinasi indah yang bahkan tak pernah ia lihat sebelumnya. Ini bukan kali pertama Tara merasakan anugerah indah yang bernama 'cinta'. Bukan juga kali pertama ia mempunyai hubungan spesial sebagai sepasang kekasih. Seperti gadis remaja normal lainnya, Tara juga pernah merasakan hal-hal duniawi semacam itu, namun kali ini berbeda. Ia seperti menemukan rangkaian mozaik yang telah lama ia cari. Nathan, seorang lelaki remaja yang hanya berusia dua tahun lebih tua dari Tara adalah sosok yang membuat Tara merasakan sebuah 'cinta' yang berbeda.
Nathan tak lain adalah kakak kelas Tara saat ia mulai menginjak usia Sekolah Menengah Atas. Mereka kebetulan satu ekskul. Awalnya semua berjalan normal hingga ia bertemu pemuda koleris itu. Mereka kenal, berbincang-bincang mengenai ekskul mereka. Nathan juga sempat menanyakan perihal kedekatan Tara dengan siswa seangkatan Nathan. Ponsel Tara mulai sering berkedip dan bergetar semenjak itu. Lama-kelamaan hubungan Tara dan Nathan semakin dekat. Keduanya pernah mengungkapkan keinginannya memiliki sosok adik bagi Nathan dan seorang kakak bagi Tara. Mereka sama-sama menginginkan sosok yang mungkin tak pernah hadir itu. Semenjak itu, entah bagaimana, Tara sudah menganggap Nathan seperti kakak kandungnya sendiri, tempat ia berbagi suka dan duka, tempat ia begitu saja meluapkan tangisannya. Begitu juga Nathan yang terlihat begitu menyayangi Tara sebagai adiknya. Tara heran mengapa ia begitu cepat nyaman dengan seseorang yang baru ia kenal. Hingga sampai pada suatu ketika, Tara mengetahui sebuah fakta yang tak pernah ia ketahui bahkan tak pernah mereka bahas. Nathan ternyata mempunyai pacar, Dela, seangkatan dengan Nathan. Hubungan mereka bahkan hampir berjalan satu tahun. Mengetahuinya, Tara hanya terkaget akan semua ketertutupan kakaknya itu. Ia kira ia sudah hampir mengenal semua bagian dari hidup Nathan. Ternyata tidak, bahkan pacarnya sekalipun ia tak tahu. Untunglah saat itu ia hanya menganggap Nathan sebagai seorang kakak, kakak yang begitu menyayanginya selayaknya adik. Saat itu di hati Tara masih ada sesosok lelaki yang sejak SMP dikenalnya. Tapi Tara sudah terlanjur kecewa, lebih tepatnya mulai membenci meskipun sebetulnya masih ada rasa di dalam hatinya. Hanya saja ia begitu takut. Ia sudah terlanjur dekat dan begitu nyaman mempunyai kakak seperti Nathan. Mengapa Nathan tak pernah mengatakannya? Tara juga takut kedekatannya dengan Nathan akan memunculkan perang dingin dengan Dela. Tara tak pernah cemburu saat itu, hanya takut. Itu saja. Tara bahkan pernah dicap 'parasit' oleh salah seorang teman satu angkatan Nathan. Kalau boleh jujur, Tara tak ingin ia ada di posisi itu. Tidak. Sama sekali tidak. Tara tak ingin terjebak dalam kerumitan itu. Mengapa Nathan tak katakan dari dulu? Kalau saja ia katakan, mungkin semua takkan berlanjut seperti itu.
Hubungan Tara dan Nathan mulai merenggang, Tara mulai kehilangan sosok kakak itu. Nathan sedang ada masalah dengan Dela. Tara sering berpikir semua karena dia. Ia lebih banyak menyalahkan dirinya sendiri atas semua itu, tapi Nathan selalu menyanggahnya. Entah apa yang harus ia lakukan, ia pun tak tahu. Ia hanya berusaha meminta maaf kepada Dela, tapi ia selalu katakan tidak apa-apa. Meski begitu ia tahu jelas, mereka bagaikan musuh dalam selimut. Ia tahu Dela sebetulnya membencinya. Nathan kerap kali membela Tara di depannya. Selang beberapa bulan, mereka putus. Itu hal yang paling mengejutkan Tara selama satu semester di sekolah itu. Bagaimana tidak, semua tak pernah diduganya dan ia tahu akan ada babak baru yang amat pelik setelahnya. Ia sadar itu artinya, Dela akan membencinya terang-terangan. Ternyata semua dugaannya benar. Mereka tak pernah lagi berbincang, Tara tak pernah disapa Dela lagi padahal saat itu Dela menyapa temannya yang persis ada di sebelah Tara. Semuanya semakin menjadi, mimpi buruk yang tak pernah diinginkan oleh semua orang. Ia tak menyangka kehidupan SMA-nya akan begini. Nathan kembali dekat dengan Tara, ia kerap kali bercerita mengenai Dela. Mengenai pertengkarannya dengan Dela yang masih saja terjadi. Nathan kecewa saat Dela tak ada lagi di hari ulang tahunnya yang ke-17. Tara ingin pergi dari hidup Nathan, tetapi Nathan selalu meminta Tara untuk balas budi dengan tidak pergi dari hidupnya, meskipun kata balas budi hanyalah gurauan.
Di ulang tahun ke-17 Nathan, Tara yang hadir menemaninya. Semua orang sudah mulai menyalah artikannya. Tara masih menyayanginya hanya sebagai kakak. Tara tahu tak ada lagi yang percaya bahwa ia tak ada perasaan lebih kepada Nathan. Semua menuduh Tara yang menjadi orang ketiga, Tara yang dari dulu sudah memiliki rasa lain pada Nathan. Bagaimanapun Tara bahkan masih merasakan sakit dan perih mengenai lelaki masa lalu itu. Tara hanya bisa diam, Tara takut ia akan benar-benar merasakannya jika ia banyak mengelak.
Semakin jauh hubungan adik-kakak itu, mulai terasa ada sesuatu yang berbeda. Nathan yang mulai membuat lampu latar ponsel Tara menari-nari, Nathan yang mengisi kotak masuk di ponsel Tara. Tak ada pagi tanpa ucapan selamat pagi darinya, begitupun malam, juga selalu ada senyuman yang mengiri Tara ketika membaca pesan dari Nathan. Semenjak ulang tahun Nathan yang dirayakan dua kali. Pertama, khusus untuk Tara si adik tersayang. Kedua, bersama teman-teman mereka yang juga berulang tahun di bulan yang sama. Nathan mengenalkan Tara tempat yang begitu baru dan asing buatnya. Malam itu Tara terhuyung lemah, kepalanya sakit seperti ditusuk. Saat itu ia hanya ingin pulang. Tara ditawarkan untuk pulang bersama seorang kakak kelas yang tidak begitu dikenalnya. Tapi Nathan seketika itu menarik tangan Tara, ia hanya terheran dalam wajah pucatnya. Nathan mengantarnya pulang. Malam itu sungguh, kalau saja Tara tak sedang lemah dan sakit kepala, mungkin ia akan tersenyum sepanjang jalan, menikmati indahnya kota Jakarta di malam hari yang jarang sekali ia lihat.
Suatu ketika Tara pergi ke sebuah tempat rekreasi, saat itu Tara tak bersama Nathan, hanya bersama teman-temannya. Melihat temannya asyik dengan pacarnya, entah mengapa Tara terpikir mengenai Nathan. Mengapa ia begitu merindukan sosok Nathan saat itu? Mengapa ia ingin Nathan ada di sampingnya saat itu? Mengapa hanya satu jam saja Nathan tak mengirim pesan atau membalas pesan rasanya ada sesuatu yang hilang dalam harinya? Dan yang paling aneh, mengapa harus NATHAN?? Saat itu bahkan ia berani bertanya pada temannya, "Kalo gue jadian sama kak Nathan gimana, ya?". Satu hal yang tak pernah terpikir akan terlontar dari mulutnya. Mungkin ia akan dibilang munafik, sebelumnya ia bilang tidak ada perasaan, tapi tiba-tiba bertanya seperti itu. Mungkin saja. Tapi percayalah, Tara baru merasakannya hari itu. Atau mungkin ia baru menyadarinya?
Hubungan Tara dan Nathan semakin dekat. Berita yang beredar hanya di kalangan teman-teman Tara yaitu mereka telah resmi jadian. Padahal tidak. Entah sudah berapa orang temannya yang berkata seperti itu. Nathan pernah berkata kepadanya melalui SMS, yang intinya menanyakan bagaimana kalau Nathan mau mereka jadian. Tapi sialnya, itu hanya gurauan Nathan belaka. Untung saja saat itu Tara tak terjebak akal-akalan Nathan. Beberapa hari setelahnya, Nathan menemani Tara membeli sebuah kado untuk temannya. Lagi-lagi hal yang sama sekali tak pernah Tara duga terjadi, Nathan menyatakan perasaannya sekaligus menanyakan mengenai isi SMS sewaktu dia bergurau. Tara yang masih kaget saat itu hanya bisa mondar-mandir salah tingkah setelah mendengar kalimat itu. Namun Tara tak langsung menjawabnya. Selama dua hari Nathan menunggu jawaban yang tak kunjung terucap dari Tara. Akhirnya Tara memutuskan untuk mencoba menjalani hubungan itu.
Semua perjalanan mereka mengalir begitu saja bagai air. Meski tak dipungkiri, begitu banyak aral yang melintang. Mereka terus membangun benteng pertahanan bersama-sama. Saat teman-teman Tara sudah banyak yang mulai mengakhiri hubungannya, bahkan telah resmi berhubungan lagi, Tara masih saja bersama Nathan. Entahlah Tara begitu nyaman ada di sisi Nathan, meskipun ia terlalu kekanakan sehingga membuat pertengkaran sering muncul. Begitu banyak tempat-tempat yang dikenalkan Nathan pada Tara. Hampir setiap pulang sekolah ia diantar Nathan. Biasanya mereka makan siang bersama sepulang sekolah di sebuah restoran dekat sekolah atau jalan-jalan ke toko buku. Ada pula retoran favorit mereka, yang sangat sering mereka kunjungi bersama teman-teman Tara dan Nathan. Teman-teman Tara sudah seperti teman bagi Nathan pula. Mereka dekat karena sering makan dan jalan bersama-sama. Begitu pula teman-teman Nathan. Tara ingat tempat paling romantis yang pernah ia datangi, mungkin sedikit terdengar aneh, Rumah Sakit. Bukan karena Nathan atau Tara yang jatuh sakit, bukan juga karena makan malam spesial di atap flat rumah sakit di bawah taburan bintang dan semilir angin malam. Tapi karena hari itu Nathan mengejutkannya dengan sebuah rangkaian mawar putih. Nathan memang sempat aneh tak ingin masuk begitu saja ke kamar rumah sakit salah seorang teman Tara. Padahal hanya ada teman-teman yang biasa menemaninya makan dan jalan-jalan. Ketika Tara membuka pintu kamar rumah sakit itu, Nathan muncul dengan senyum khasnya -yang selalu membuat Tara ingin tertawa saat melihatnya- dengan sebuket bunga mawar putih. Tara tak menyangka, itu pertama kalinya ada seorang laki-laki memberikannya sebuah rangkaian bunga khusus untuk dirinya. Senyum di bibir Tara seketika merekah. Nathan tahu Tara akan senang sekali. Hari itu mungkin jadi hari yang terindah, membuat Tara menomorduakan hari di mana Nathan menyatakan perasaannya. Diantara nama panggilan untuk Tara, salah satunya adalah 'white rose'
Mereka sempat menghabiskan hari libur di Dufan bersama Nathan dan teman-teman mereka. Itu adalah hari terindah urutan kedua bagi Tara, lagi-lagi hari di mana Nathan menyatakan perasaannya diturunkan pada posisi ketiga hari terbaiknya. Entahlah kata apa yang dapat mewakilkan perasaan Tara hari itu. Lebih dari senang, gembira ataupun bahagia. Tara tak lelah tersenyum hari itu. Ia menghabiskan waktunya seharian penuh bersama Nathan. Merasakan jantungnya seperti tertinggal saat naik Kora-Kora, merasakan dinginnya arung jeram di waktu petang, menonton kembang api bersama. Indahnya hari itu...Kalau saja Tara dapat menghentikan waktu, biar mereka terus bersenang-senang di hari itu. Kalau saja memori itu dapat terulang. Hanya beberapa minggu setelahnya, mereka mengakhiri hubungan mereka. Terlalu banyak alasan yang membuat hubungan mereka tidak sehat lagi. Nathan lebih banyak gagal dalam meraih perguruan tinggi negeri yang ia inginkan. Keegoisan masing-masing dari mereka tambah mempersulit semuanya. Tara pun sadar ia menyakiti dirinya sendiri dengan menyakiti Nathan, ia teringat sebuah kalimat "Orang yang menyakitimu adalah orang yang kau cintai dan mencintaimu."
Tara sudah belajar banyak, ia belajar bagaimana menghargai kebaikan orang lain, ia belajar menahan keegoisannya, ia belajar menghargai sebuah hubungan dan juga belajar menghargai kenangan yang telah ia lalui. Tara belajar banyak hal. Nathan mengajarkannya banyak sekali pelajaran hidup. Sosoknya bukan hanya sekedar pacar bagi Tara, tapi juga kakak bahkan sahabat. Tara sadar, semua yang dilakukan Nathan demi kebaikannya. Keduanya harus sama-sama belajar. Tara harus belajar mengendalikan keegoisannya, Nathan pun harus lebih banyak belajar untuk sabar. Mereka sepakat untuk mengakhiri segalanya dalam enam bulan yang telah mereka lalui. Meskipun begitu singkat, terlalu padat dan banyak sekali kenangan yang mengisi hari-hari itu. Tara merindukan pemuda koleris, keras yang secara tak langsung mendidiknya itu. Tara merindukan tawa lepas, senyum ceria bahkan tangisannya karena Nathan. Tara sangat merindukan itu. Tara merindukan senandung yang dinyanyikan Nathan bersama gitar kesayangannya. Tara merindukan perhatian Nathan yang begitu besar padanya. Tara merindukan motor kenangan yang selalu ia duduki sepulang sekolah. Tara merindukan semua. Segalanya. Termasuk cara Nathan -yang sulit diterima Tara- yang akhirnya membuat Tara kesal. Bagi Tara, terlalu banyak senyum dan tawa sehingga ia harus menangis pada akhirnya. Percayalah, Tara hanya menginginkan perhatian Nathan saat Nathan merasa emosinya dipancing. Entah apa yang sebetulnya diinginkan Tara. Tara dan Nathan telah melakukan hal yang fatal dan tak punya keberanian untuk mengembalikan keadaan, membuat semuanya pulih seperti dahulu. Mereka harus berpisah meski tak ada satupun orang di dunia ini yang menginginkan perpisahan. Terkadang manusia tak berdaya menghadapi suatu keadaan dan kalah begitu saja.
Kisah ini lebih dari cinta pertama. Mungkin cinta terlalu rumit, sehingga tak satupun kata yang dapat menggambarkannya.... atau justru terlalu sederhana?
Ketulusanmu akan terbayar kelak, Tara.. Meski suatu saat bukan dia, akan ada seseorang yang membayar ketulusanmu dengan kasih sayang tulusnya pula, yang membuat Nathan akan menyesal suatu saat jika dia akan atau telah menyia-nyiakanmu. Percayalah....
P.S.
Nathan bilang, "Ini bukan akhir, tapi ini merupakan awal dari segalanya."
Tahukah kau? aku memang menangis lebih banyak saat kita bersama, tapi jujur, hatiku sakit jauh lebih dalam saat aku kehilangan sosokmu....
"I miss the way you did to me..."
Tara-your ex white rose
Nathan tak lain adalah kakak kelas Tara saat ia mulai menginjak usia Sekolah Menengah Atas. Mereka kebetulan satu ekskul. Awalnya semua berjalan normal hingga ia bertemu pemuda koleris itu. Mereka kenal, berbincang-bincang mengenai ekskul mereka. Nathan juga sempat menanyakan perihal kedekatan Tara dengan siswa seangkatan Nathan. Ponsel Tara mulai sering berkedip dan bergetar semenjak itu. Lama-kelamaan hubungan Tara dan Nathan semakin dekat. Keduanya pernah mengungkapkan keinginannya memiliki sosok adik bagi Nathan dan seorang kakak bagi Tara. Mereka sama-sama menginginkan sosok yang mungkin tak pernah hadir itu. Semenjak itu, entah bagaimana, Tara sudah menganggap Nathan seperti kakak kandungnya sendiri, tempat ia berbagi suka dan duka, tempat ia begitu saja meluapkan tangisannya. Begitu juga Nathan yang terlihat begitu menyayangi Tara sebagai adiknya. Tara heran mengapa ia begitu cepat nyaman dengan seseorang yang baru ia kenal. Hingga sampai pada suatu ketika, Tara mengetahui sebuah fakta yang tak pernah ia ketahui bahkan tak pernah mereka bahas. Nathan ternyata mempunyai pacar, Dela, seangkatan dengan Nathan. Hubungan mereka bahkan hampir berjalan satu tahun. Mengetahuinya, Tara hanya terkaget akan semua ketertutupan kakaknya itu. Ia kira ia sudah hampir mengenal semua bagian dari hidup Nathan. Ternyata tidak, bahkan pacarnya sekalipun ia tak tahu. Untunglah saat itu ia hanya menganggap Nathan sebagai seorang kakak, kakak yang begitu menyayanginya selayaknya adik. Saat itu di hati Tara masih ada sesosok lelaki yang sejak SMP dikenalnya. Tapi Tara sudah terlanjur kecewa, lebih tepatnya mulai membenci meskipun sebetulnya masih ada rasa di dalam hatinya. Hanya saja ia begitu takut. Ia sudah terlanjur dekat dan begitu nyaman mempunyai kakak seperti Nathan. Mengapa Nathan tak pernah mengatakannya? Tara juga takut kedekatannya dengan Nathan akan memunculkan perang dingin dengan Dela. Tara tak pernah cemburu saat itu, hanya takut. Itu saja. Tara bahkan pernah dicap 'parasit' oleh salah seorang teman satu angkatan Nathan. Kalau boleh jujur, Tara tak ingin ia ada di posisi itu. Tidak. Sama sekali tidak. Tara tak ingin terjebak dalam kerumitan itu. Mengapa Nathan tak katakan dari dulu? Kalau saja ia katakan, mungkin semua takkan berlanjut seperti itu.
Hubungan Tara dan Nathan mulai merenggang, Tara mulai kehilangan sosok kakak itu. Nathan sedang ada masalah dengan Dela. Tara sering berpikir semua karena dia. Ia lebih banyak menyalahkan dirinya sendiri atas semua itu, tapi Nathan selalu menyanggahnya. Entah apa yang harus ia lakukan, ia pun tak tahu. Ia hanya berusaha meminta maaf kepada Dela, tapi ia selalu katakan tidak apa-apa. Meski begitu ia tahu jelas, mereka bagaikan musuh dalam selimut. Ia tahu Dela sebetulnya membencinya. Nathan kerap kali membela Tara di depannya. Selang beberapa bulan, mereka putus. Itu hal yang paling mengejutkan Tara selama satu semester di sekolah itu. Bagaimana tidak, semua tak pernah diduganya dan ia tahu akan ada babak baru yang amat pelik setelahnya. Ia sadar itu artinya, Dela akan membencinya terang-terangan. Ternyata semua dugaannya benar. Mereka tak pernah lagi berbincang, Tara tak pernah disapa Dela lagi padahal saat itu Dela menyapa temannya yang persis ada di sebelah Tara. Semuanya semakin menjadi, mimpi buruk yang tak pernah diinginkan oleh semua orang. Ia tak menyangka kehidupan SMA-nya akan begini. Nathan kembali dekat dengan Tara, ia kerap kali bercerita mengenai Dela. Mengenai pertengkarannya dengan Dela yang masih saja terjadi. Nathan kecewa saat Dela tak ada lagi di hari ulang tahunnya yang ke-17. Tara ingin pergi dari hidup Nathan, tetapi Nathan selalu meminta Tara untuk balas budi dengan tidak pergi dari hidupnya, meskipun kata balas budi hanyalah gurauan.
Di ulang tahun ke-17 Nathan, Tara yang hadir menemaninya. Semua orang sudah mulai menyalah artikannya. Tara masih menyayanginya hanya sebagai kakak. Tara tahu tak ada lagi yang percaya bahwa ia tak ada perasaan lebih kepada Nathan. Semua menuduh Tara yang menjadi orang ketiga, Tara yang dari dulu sudah memiliki rasa lain pada Nathan. Bagaimanapun Tara bahkan masih merasakan sakit dan perih mengenai lelaki masa lalu itu. Tara hanya bisa diam, Tara takut ia akan benar-benar merasakannya jika ia banyak mengelak.
Semakin jauh hubungan adik-kakak itu, mulai terasa ada sesuatu yang berbeda. Nathan yang mulai membuat lampu latar ponsel Tara menari-nari, Nathan yang mengisi kotak masuk di ponsel Tara. Tak ada pagi tanpa ucapan selamat pagi darinya, begitupun malam, juga selalu ada senyuman yang mengiri Tara ketika membaca pesan dari Nathan. Semenjak ulang tahun Nathan yang dirayakan dua kali. Pertama, khusus untuk Tara si adik tersayang. Kedua, bersama teman-teman mereka yang juga berulang tahun di bulan yang sama. Nathan mengenalkan Tara tempat yang begitu baru dan asing buatnya. Malam itu Tara terhuyung lemah, kepalanya sakit seperti ditusuk. Saat itu ia hanya ingin pulang. Tara ditawarkan untuk pulang bersama seorang kakak kelas yang tidak begitu dikenalnya. Tapi Nathan seketika itu menarik tangan Tara, ia hanya terheran dalam wajah pucatnya. Nathan mengantarnya pulang. Malam itu sungguh, kalau saja Tara tak sedang lemah dan sakit kepala, mungkin ia akan tersenyum sepanjang jalan, menikmati indahnya kota Jakarta di malam hari yang jarang sekali ia lihat.
Suatu ketika Tara pergi ke sebuah tempat rekreasi, saat itu Tara tak bersama Nathan, hanya bersama teman-temannya. Melihat temannya asyik dengan pacarnya, entah mengapa Tara terpikir mengenai Nathan. Mengapa ia begitu merindukan sosok Nathan saat itu? Mengapa ia ingin Nathan ada di sampingnya saat itu? Mengapa hanya satu jam saja Nathan tak mengirim pesan atau membalas pesan rasanya ada sesuatu yang hilang dalam harinya? Dan yang paling aneh, mengapa harus NATHAN?? Saat itu bahkan ia berani bertanya pada temannya, "Kalo gue jadian sama kak Nathan gimana, ya?". Satu hal yang tak pernah terpikir akan terlontar dari mulutnya. Mungkin ia akan dibilang munafik, sebelumnya ia bilang tidak ada perasaan, tapi tiba-tiba bertanya seperti itu. Mungkin saja. Tapi percayalah, Tara baru merasakannya hari itu. Atau mungkin ia baru menyadarinya?
Hubungan Tara dan Nathan semakin dekat. Berita yang beredar hanya di kalangan teman-teman Tara yaitu mereka telah resmi jadian. Padahal tidak. Entah sudah berapa orang temannya yang berkata seperti itu. Nathan pernah berkata kepadanya melalui SMS, yang intinya menanyakan bagaimana kalau Nathan mau mereka jadian. Tapi sialnya, itu hanya gurauan Nathan belaka. Untung saja saat itu Tara tak terjebak akal-akalan Nathan. Beberapa hari setelahnya, Nathan menemani Tara membeli sebuah kado untuk temannya. Lagi-lagi hal yang sama sekali tak pernah Tara duga terjadi, Nathan menyatakan perasaannya sekaligus menanyakan mengenai isi SMS sewaktu dia bergurau. Tara yang masih kaget saat itu hanya bisa mondar-mandir salah tingkah setelah mendengar kalimat itu. Namun Tara tak langsung menjawabnya. Selama dua hari Nathan menunggu jawaban yang tak kunjung terucap dari Tara. Akhirnya Tara memutuskan untuk mencoba menjalani hubungan itu.
Semua perjalanan mereka mengalir begitu saja bagai air. Meski tak dipungkiri, begitu banyak aral yang melintang. Mereka terus membangun benteng pertahanan bersama-sama. Saat teman-teman Tara sudah banyak yang mulai mengakhiri hubungannya, bahkan telah resmi berhubungan lagi, Tara masih saja bersama Nathan. Entahlah Tara begitu nyaman ada di sisi Nathan, meskipun ia terlalu kekanakan sehingga membuat pertengkaran sering muncul. Begitu banyak tempat-tempat yang dikenalkan Nathan pada Tara. Hampir setiap pulang sekolah ia diantar Nathan. Biasanya mereka makan siang bersama sepulang sekolah di sebuah restoran dekat sekolah atau jalan-jalan ke toko buku. Ada pula retoran favorit mereka, yang sangat sering mereka kunjungi bersama teman-teman Tara dan Nathan. Teman-teman Tara sudah seperti teman bagi Nathan pula. Mereka dekat karena sering makan dan jalan bersama-sama. Begitu pula teman-teman Nathan. Tara ingat tempat paling romantis yang pernah ia datangi, mungkin sedikit terdengar aneh, Rumah Sakit. Bukan karena Nathan atau Tara yang jatuh sakit, bukan juga karena makan malam spesial di atap flat rumah sakit di bawah taburan bintang dan semilir angin malam. Tapi karena hari itu Nathan mengejutkannya dengan sebuah rangkaian mawar putih. Nathan memang sempat aneh tak ingin masuk begitu saja ke kamar rumah sakit salah seorang teman Tara. Padahal hanya ada teman-teman yang biasa menemaninya makan dan jalan-jalan. Ketika Tara membuka pintu kamar rumah sakit itu, Nathan muncul dengan senyum khasnya -yang selalu membuat Tara ingin tertawa saat melihatnya- dengan sebuket bunga mawar putih. Tara tak menyangka, itu pertama kalinya ada seorang laki-laki memberikannya sebuah rangkaian bunga khusus untuk dirinya. Senyum di bibir Tara seketika merekah. Nathan tahu Tara akan senang sekali. Hari itu mungkin jadi hari yang terindah, membuat Tara menomorduakan hari di mana Nathan menyatakan perasaannya. Diantara nama panggilan untuk Tara, salah satunya adalah 'white rose'
Mereka sempat menghabiskan hari libur di Dufan bersama Nathan dan teman-teman mereka. Itu adalah hari terindah urutan kedua bagi Tara, lagi-lagi hari di mana Nathan menyatakan perasaannya diturunkan pada posisi ketiga hari terbaiknya. Entahlah kata apa yang dapat mewakilkan perasaan Tara hari itu. Lebih dari senang, gembira ataupun bahagia. Tara tak lelah tersenyum hari itu. Ia menghabiskan waktunya seharian penuh bersama Nathan. Merasakan jantungnya seperti tertinggal saat naik Kora-Kora, merasakan dinginnya arung jeram di waktu petang, menonton kembang api bersama. Indahnya hari itu...Kalau saja Tara dapat menghentikan waktu, biar mereka terus bersenang-senang di hari itu. Kalau saja memori itu dapat terulang. Hanya beberapa minggu setelahnya, mereka mengakhiri hubungan mereka. Terlalu banyak alasan yang membuat hubungan mereka tidak sehat lagi. Nathan lebih banyak gagal dalam meraih perguruan tinggi negeri yang ia inginkan. Keegoisan masing-masing dari mereka tambah mempersulit semuanya. Tara pun sadar ia menyakiti dirinya sendiri dengan menyakiti Nathan, ia teringat sebuah kalimat "Orang yang menyakitimu adalah orang yang kau cintai dan mencintaimu."
Tara sudah belajar banyak, ia belajar bagaimana menghargai kebaikan orang lain, ia belajar menahan keegoisannya, ia belajar menghargai sebuah hubungan dan juga belajar menghargai kenangan yang telah ia lalui. Tara belajar banyak hal. Nathan mengajarkannya banyak sekali pelajaran hidup. Sosoknya bukan hanya sekedar pacar bagi Tara, tapi juga kakak bahkan sahabat. Tara sadar, semua yang dilakukan Nathan demi kebaikannya. Keduanya harus sama-sama belajar. Tara harus belajar mengendalikan keegoisannya, Nathan pun harus lebih banyak belajar untuk sabar. Mereka sepakat untuk mengakhiri segalanya dalam enam bulan yang telah mereka lalui. Meskipun begitu singkat, terlalu padat dan banyak sekali kenangan yang mengisi hari-hari itu. Tara merindukan pemuda koleris, keras yang secara tak langsung mendidiknya itu. Tara merindukan tawa lepas, senyum ceria bahkan tangisannya karena Nathan. Tara sangat merindukan itu. Tara merindukan senandung yang dinyanyikan Nathan bersama gitar kesayangannya. Tara merindukan perhatian Nathan yang begitu besar padanya. Tara merindukan motor kenangan yang selalu ia duduki sepulang sekolah. Tara merindukan semua. Segalanya. Termasuk cara Nathan -yang sulit diterima Tara- yang akhirnya membuat Tara kesal. Bagi Tara, terlalu banyak senyum dan tawa sehingga ia harus menangis pada akhirnya. Percayalah, Tara hanya menginginkan perhatian Nathan saat Nathan merasa emosinya dipancing. Entah apa yang sebetulnya diinginkan Tara. Tara dan Nathan telah melakukan hal yang fatal dan tak punya keberanian untuk mengembalikan keadaan, membuat semuanya pulih seperti dahulu. Mereka harus berpisah meski tak ada satupun orang di dunia ini yang menginginkan perpisahan. Terkadang manusia tak berdaya menghadapi suatu keadaan dan kalah begitu saja.
Kisah ini lebih dari cinta pertama. Mungkin cinta terlalu rumit, sehingga tak satupun kata yang dapat menggambarkannya.... atau justru terlalu sederhana?
Ketulusanmu akan terbayar kelak, Tara.. Meski suatu saat bukan dia, akan ada seseorang yang membayar ketulusanmu dengan kasih sayang tulusnya pula, yang membuat Nathan akan menyesal suatu saat jika dia akan atau telah menyia-nyiakanmu. Percayalah....
P.S.
Nathan bilang, "Ini bukan akhir, tapi ini merupakan awal dari segalanya."
Tahukah kau? aku memang menangis lebih banyak saat kita bersama, tapi jujur, hatiku sakit jauh lebih dalam saat aku kehilangan sosokmu....
"I miss the way you did to me..."
Tara-your ex white rose
Labels:
cerbung,
Tara Journey
Subscribe to:
Posts (Atom)