Tuesday, May 19, 2015

Miniatur Kehidupan dalam Surga di 2821Mdpl

Memandang galaksi bima sakti dengan mata kepala sendiri adalah obsesi saya terhadap alam.
Menikmati hangatnya sinar matahari yang perlahan beranjak dari tidurnya dari dekat adalah impian saya tentang alam.
“Bonusnya pendaki itu bisa liat matahari bangun dari kasurnya, mba." -Kak Bote, 2014.


Ini adalah kisah tentang pencarian dan pencapaian “tertinggi” demi seteguk Paradays dari arakan awan, dari sekumpulan bintang bernama Bima Sakti. Ini adalah kisah tentang perjuangan yang teramat luar biasa menaklukkan hati, jiwa, dan raga lebih dari apapun demi mencapai "surga". Surga sesungguhnya ada di atas langit. Surga yang membutuhkan banyak perjuangan dan kebajikan untuk mencapainya. 


.
.
.
.
.
Jum’at, 15 Agustus 2015
Empat belas raga manusia beranjak dari terminal Kampung Rambutan dengan wajah yang tidak jelas rautnya. Ya, karena waktu itu hari sudah malam. Ada rasa bahagia bercampur khawatir yang sulit saya gambarkan lewat raut wajah saat itu. Bagaimana tidak, ini adalah kali pertama dalam hidup saya mencoba untuk mendaki gunung. Entah ini konyol atau tidak, tapi demi melihat wujud Bima Sakti. Tujuan kami adalah Gunung Cikuray, Garut, Jawa Barat. Gunung yang dikenal memiliki trek yang tidak biasa dan terjal tanpa lahan datar. Bagaimanapun beberapa orang sempat meragukan saya yang belum pernah sama sekali mendaki akan mampu sampai pada puncak gunung tersebut. Tapi saya sudah membulatkan tekad, lebih bulat dari bentuk bumi yang bahkan tidak benar-benar bulat. Kesempatan ini tidak boleh saya sia-siakan seperti kesempatan mendaki Mahameru yang saya lewatkan karena terganjal izin orang tua. Tanpa Ranukumbolo saya tetap harus bisa melihat sang Bima Sakti.

Bus melaju dengan kepadatan penumpang yang tidak dapat saya maklumi. Dengan tumpukan carrier di bagian belakang bus, saya yakin tujuan mereka di antaranya adalah Papandayan, Guntur, dan…. Mungkin Cikuray? Untuk yang satu ini saya belum terlalu yakin. Menurut kawan mendaki saya belum banyak orang yang mau mendaki Cikuray karena lahannya yang sempit dan terlalu terjal untuk membangun tenda. Saya pun masih sangat asing mendengar nama gunung tersebut.


Gunung Cikuray dari kejauhan
sumber: commons.wikimedia.org
Sabtu, 16 Agustus 2015
Sekitar 4-5 jam saya habiskan dalam perjalanan menuju Garut. Sekitar pukul dua dini hari saya dan kawan-kawan tiba di SPBU Tanjung, tempat kami akan dijemput oleh mobil pick up. Di SPBU Tanjung ini tersedia fasilitas yang menurut saya cukup lengkap dari mulai adanya masjid, wc umum, minimarket sampai warteg untuk sarapan. Baru sampai di SPBU ini badan saya sudah menggigil sekali ditambah semilir angin sukses membuat saya kedinginan. Sesekali suara-suara menggaung di telinga saya. Ini baru di Tanjung, belum ada apa-apanya dibandingkan di puncak sana. 

Bersama rombongan lainnya kami menggelar matras di teras masjid dan merebahkan badan, makan dan bercengkerama sampai subuh. Ada kesempatan untuk melanjutkan tidur yang sempat terganggu di bus sebelumnya, tapi udara dingin membuat saya enggan memejamkan mata sedikitpun. 
Ada satu hal yang menghangatkan hati saya dalam sekejap saat saya merebahkan badan. Bintang berkelap-kelip di hadapan mata saya yang redup-redup terkena semilir angin. Tak banyak memang bintangnya, tapi juga tak banyak kesempatan seperti ini saya dapatkan di kota penuh polusi seperti di Jakarta. Doa saya pagi itu, semoga mata saya dapat bertautan dengan lautan awan dan sang Bima Sakti. Saya terus memandangi langit syahdu itu hingga udara mulai menghangat seiring bangunnya matahari dari selimut.
 
In frame: Tiwi, Fika, Amel, Bai, Deswan, Dimar, Radju, Zaidi
Matahari semakin meninggi ketika mobil pick up kami baru saja menjemput. Perjalanan menuju pos pemancar tidak tanpa kendala, kami melewati kebun teh dan sesekali kanan dan kiri kami adalah jurang. Mang Aep, supir pick up kami hanyalah satu dari puluhan warga setempat yang mampu menaklukkan medan menuju pos pemancar ini. Di jalan yang sepertinya hanya muat satu mobil ini ada saja mobil dari arah berlawanan, dan di sinilah ketangguhan dan kesabaran Mang Aep diuji. Bahkan beberapa kali ada mobil lain yang selip sehingga Mang Aep harus beberapa kali turun untuk membantu. 


Pos pemancar
Photo by: @dimartana


Mereka bilang saya hanya butuh terbiasa…
Pendakian belum dimulai, tapi jantung saya sudah berdegup kencang ketika satu persatu botol air mineral ukuran besar dimasukkan dalam carrier saya. Selain treknya yang hanya diisi oleh tanjakan, Cikuray juga tidak menyediakan banyak sumber air di atas sana. Sehingga mau tidak mau saya harus membawa dua botol air mineral besar dalam carrier saya yang juga berisi barang pribadi. Saya begitu percaya diri ketika badan saya berdiri tegak menggunakan carrier tersebut dan seketika saya merasa mampu membawanya sampai puncak. Namun, kenyataan menolaknya mentah-mentah. Rupanya perjalanan dari awal justru mematahkan semangat saya. Undakan tangga yang terbuat dari tanah dan tanpa henti itu membuat saya kehabisan oksigen dan  membuat wajah saya pucat pasi. Baru saja menit kelima belas yang saya habiskan, badan saya sudah menjatuhkan diri untuk duduk. Kepala saya terasa sakit, sedetik saya tidak menguasai diri saya maka saya akan jatuh pingsan. Saya terus menguatkan diri bahwa saya bisa, saya pasti bisa. Kala itu suara setan terus berdengung mengatakan bahwa saya tidak pantas ada di atas sana. Katanya, “dari ratusan bahkan ribuan orang yang mendaki saat itu hanya kamu yang jatuh pada menit kelima belas. Bahkan kawanmu yang juga pertama kali mendaki begitu hebatnya sudah melampauimu. Sudah saya bilang sedari awal keputusanmu mendaki itu bukan keputusan cerdas. Lantas, sekarang kamu hanya bisa merepotkan mereka yang harus menunggu kamu bangkit. Pulanglah.” Suara setan itu saya turuti. Detik itu bahkan saya sudah memikirkan di mana saya akan menginap untuk menunggu mereka turun.


Trek awal. In frame: @radjualfansyah
Photo by: @dimartana

Suara itu buyar ketika beberapa dari kawan saya berdiri di depan saya meyakinkan bahwa saya bisa. Menenangkan saya untuk tidak khawatir dan menawarkan untuk bertukar carrier dengan daypack serta memberikan madu untuk meningkatkan gula darah saya. Mengingatkan saya untuk beristirahat ketika tubuh saya membutuhkannya. Saya mulai bangkit dan terus meyakinkan diri bahwa saya bisa, dan ketika yakin saya pasti bisa. Ini adalah urusan menaklukkan diri saya, saya yakin Tuhan tidak pernah tidur. Maka sedetik kemudian saya mencoba melangkah lagi. Dan…berhasil! Memasuki kawasan vegetasi tubuh saya pulih dan semangat saya meningkat berkali-kali lipat. Mereka bilang saya hanya butuh terbiasa.


Keindahan perkebunan kaki gunung Cikuray
Photo by: @dimartana

Ini baru Indonesia!
Ternyata kabar bahwa peminat Cikuray khususnya saat 17 Agustus sedikit itu hanya isu lama. Buktinya, saat itu pendaki yang terdaftar mencapai seribu orang.  

Dalam perjalanan, ada pelajaran yang saya dapatkan lagi. Indonesia yang katanya ramah, sudah lama sekali saya tidak merasakannya sampai akhirnya tiba di tempat ini. Tempat yang sama sekali tidak terpikirkan dalam benak saya, gunung! Ketika semua tenaga, pikiran, emosi, hati sudah terlalu lelah tapi saya selalu menemukan orang-orang yang menyempatkan diri untuk sekadar menyapa, menawarkan untuk makan, minum, bahkan menyemangati dan memotivasi kami di saat mereka saja mungkin sedang membutuhkan sokongan semangat. Di sinilah Indonesia yang lama hilang, ini baru Indonesia!


Ketika dengkul bertemu dada… It's worth the fight.
Cikuray terkenal sekali dengan motto “Ketika dengkul bertemu dada.”. Saya pikir mereka hanya melebih-lebihkan saja. Ternyata ini benar-benar saya alami. Ini adalah pengalaman pertama saya mendaki gunung dan saya sudah dihadapi oleh terjal dan ganasnya pendakian yang berpadu dengan akar-akar licin. Ini akan menjadi perjuangan yang sangat berharga, pikir saya saat itu. It's worth the fight.

Perjuangan mencapai surga di atas awan
In frame: @dimartana
In frame: Dinar

Photo by: @dimartana


Jalur Cikuray hanya ada satu, hanya bisa melalui pos pemancar dan tracknya juga satu jalur. Jadi, pendaki tanpa pemandu tidak akan mudah tersesat. Selain itu lahannya sangat amat miring, sehingga harus selalu menanjak, merangkak, nyaris seperti sedang panjat tebing. Sulit sekali menemukan lahan datar untuk memasang tenda sehingga pendaki harus trekking lebih awal supaya kedapatan lahan untuk tenda. Selain tidak ada lahan landai atau datar, Cikuray juga dikelilingi pohon-pohon tinggi dan hutan hingga tidak ada kesempatan kita untuk menikmati pemandangan di bawahnya ketika sudah memasuki kawasan vegetasi.

Perjuangan selama delapan jam akhirnya selesai ketika tiba di tenda yang sudah didirikan oleh kawan yang sudah terlebih dahulu mencari lahan di pos enam. Rasanya lelah namun puas sekali sudah sampai sejauh ini meskipun belum tiba di puncak. Tegukan air putih saat itu lebih dari memuaskan dahaga, lebih dari kenikmatan minuman apapun di dunia.


Bima Sakti?
Malam tiba, dan udara semakin dingin. "Itu liat deh ada milky way," kata Radju. Saya senang bukan main dan melupakan suhu dingin di luar dengan bergegas keluar tenda. Sebersit asa menjadi kecewa saat saya melihat ke langit, hanya ada sedikit cahaya bintang dan saya yakin itu bukan Bima Sakti. Keadaan gunung Cikuray dengan kanopi tertutup di mana penuh pohon-pohon besar yang menghalangi tidak memungkinkan saya untuk sekadar memandangi langit malam itu. Impian saya bertemu Bima Sakti malam itu pupus sudah. Obsesi saya pada alam pun tertunda.

Keluar dari zona nyaman.
Cikuray membuat saya benar-benar keluar dari zona nyaman bahkan zona aman. Terlebih ketika pada tengah malam suara gemuruh angin mulai terdengar beradu hebat dengan dedaunan dan tenda. Tanpa saya sadari salah satu patok tenda kami terlepas dan tenda dalam posisi miring. Menjelang pukul 2 pagi, saya masih sesekali terbangun karena suara gemuruh angin semakin kencang dan terdengar seperti suara rintik-rintik. Lebih-lebih dari pukul 12 lalu, gemuruh angin kali ini tidak berhenti sama sekali. Kali ini benar-benar hujan, pikir saya. Teman-teman satu tenda masih tertidur lelap dan saya merasa ketakutan sendiri. Pikiran negatif lagi-lagi muncul dalam lamunan otak saya. Saya berada di ketinggian dua ribu sekian meter dari permukaan laut, tidur dengan alas miring dan bertepikan jurang, dan badai sedang menerjang tenda saya dengan segala kemungkinan dapat terjadi sekaligus tidak ada tempat untuk berlari dan berlindung. Tenda yang saya tempati adalah satu-satunya tempat yang aman dengan sejuta keresahan. Saya sudah keluar dari zona nyaman bahkan zona aman. Terlebih lagi rasa kecewa yang teramat karena kemungkinan saat summit tidak ada awan-awan yang menanti karena hujan, atau bahkan tidak ikut summit karena track pasti akan sangat licin.

Asa lagi-lagi menjadi kecewa. Haruskah lagi-lagi impian saya tentang alam akan tertunda? 

Summit attack.
Rupanya malam itu tidak hujan, hanya saja badai angin memang masih terjadi hingga pukul empat pagi ketika saya dan kawan-kawan memutuskan untuk menuju puncak. Tanpa istirahat sama sekali, saya akhirnya tiba di puncak dengan suhu dingin sejadi-jadinya yang membuat tangan dan bibir saya beku. Satu dari berjuta impian saya telah terwujud, impian saya tentang alam sudah terwujud, satu senyum simpul untuk itu. Sejak saat itu, saya semakin percaya akan mimpi. Kalau saja pagi itu udara dingin tidak menyergap, air mata saya mungkin sudah menetes deras. Nyanyian lagu Indonesia Raya di telinga dengan kibaran merah putih dalam bola mata saya membuat pagi itu semakin syahdu. 





Keindahan surga di atas awan tidak mampu saya gambarkan lewat kata-kata. Hanya saja gambar-gambar ini mungkin lebih pandai menceritakannya.

Photo by: @dimartana

INDONESIA ITU INDAH!
Photo by: @dimartana








Photo by: @dimartana
Photo by@dimartana



Photo by: @melemelemel




Miniatur kehidupan dalam dua ribu delapan ratus dua puluh satu meter.

17 Agustus saya kali ini berbeda, bukan upacara di lapangan luas lengkap dengan paskibraka dan paduan suara atau sekadar menonton upacara bendera di Istana Negara lewat televisi. Sekali lagi, saya keluar dari zona nyaman saya. Ini adalah momen bersejarah yang tidak akan saya lupakan seumur hidup saya. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di puncak gunung, dengan track sedahsyat Cikuray, dan ini hadiahnya. Hadiah yang hanya bisa saya lihat dan nikmati dengan usaha dan kerja keras.
Photo by: @dimartana

Saya memang belum berhasil bertemu dengan gugusan bintang dalam Bima Sakti, tapi matahari juga bintang yang memancarkan cahayanya sendiri, bukan? Kali itu saya berada begitu dekat dengan langit, awan, mataharinya juga Penciptanya. Alam seakan berpesan, lihatlah lebih dekat, maka kau akan mengerti.

Golden sunrise
Photo by: @pratiwisn


Dari 2821 mdpl

Cikuray mengajarkan saya banyak hal, miniatur kehidupan dalam dua ribu delapan ratus dua puluh satu meter. Menunduk ketika naik dan tetap tegak ketika turun. "Fainna ma'al usri yusra. Inna ma'al usri yusra". Sesungguhnya setelah kesulitan selalu ada kemudahan. Mengajarkan saya bahwa tidak ada yang sia-sia. Bahwa bukan gununglah yang kita taklukkan, tapi diri kita. Seberapa sulitpun ujian yang kita hadapi, akan ada pelajaran yang bisa dipetik dan hasil yang bisa dinikmati. Dari atas sana sungguh rasanya manusia terlalu kerdil untuk menyombongkan diri di hadapan Tuhan. Dan dunia terlalu luas untuk diam di satu tempat, maka berputarlah. 

Siapa bilang Indonesia hanya punya surga bawah laut? Surga sesungguhnya ada di atas langit. Surga yang membutuhkan banyak perjuangan dan kebajikan untuk mencapainya.

Indonesia's Paradays

“The world is a book, and those who don't travel only read one page.” ― Augustine of Hippo
.
.
.
.

Postingan ini ditulis dan diperbaharui dari postingan sebelumnya "Tiga Hari Untuk Selamanya: Hiking Perdana di Gunung Cikuray" dalam rangka meramaikan ulang tahun Paradays yang ke-4 dengan turut berpartisipasi membagi kisah inspiratif di balik surganya Indonesia.
Selamat ulang tahun Paradays, semoga selalu menginspirasi layaknya kekayaan surgawi Indonesia! :)


#Paradays4Blog



Monday, May 18, 2015

Isenk :p

Sunday, May 17, 2015

The answer?

Sekarang saya mulai paham alasan di balik rasa yang saya sebut-sebut sebagai perasaan "insecure" ini.

Sudah cukup lama rasanya saya tidak dihampiri perasaan seperti ini. Ya, cukup lama. Ada tiga, atau bahkan empat bulan lamanya. Belum lama, ya? Buat saya itu sudah lebih dari cukup. Akhirnya malam ini saya merasakannya lagi, Saya juga bingung harus menyebutnya apa, harus menggambarkannya seperti apa. Yang jelas ada rasa tidak nyaman yang mengganggu hati saya, dan ini sudah lama tidak saya rasakan sampai akhirnya malam ini tiba. Sekitar pukul segini memang biasanya perasaan mengganjal ini datang. Sekarang saya mulai paham bahwa ini adalah bagian dari rasa sepi. Saya sempat terpikir bahwa selama tiga sampai empat bulan lalu saya tidak pernah dihampiri oleh perasaan ini. Sampai akhirnya saya paham, bahwa pada masa itu selalu ada keramaian di sekeliling saya. Selama di luar kota saya tidak pernah tidur sendiri, saya tidak asik sendiri terutama di jam-jam seperti ini. Selalu ada canda tawa dan obrolan hingga akhirnya tertidur. Lalu saya tiba pada detik ini, ketika saya merasa semuanya hilang. Tiba-tiba hanya keheningan yang berpaut suara detak jantung saya sendiri. Apalah arti deringan ponsel ketika orang-orang mencoba bercengkerama dengan saya melalui sosial media kalau wujudnya tak ada. Saya butuh keramaian nyata, dimana tidak ada kesempatan bagi saya untuk merasa hilang. Saya rindu, saya rindu berbagi cerita, saya rindu tertawa di detik ini. Ah, sudahlah, terlalu terbawa perasaan.

Tuesday, April 14, 2015

Thinking Out Loud

"Lihat deh, bulannya bagus, besar banget, tapi kok cuma setengah, ya?"

I'm thinking 'bout how people fall in love in mysterious ways
Maybe it's all part of a plan
Well, I'll just keep on making the same mistakes
Hoping that you'll understand


Semisterius itu pula aku jatuh cinta pada kota itu, pun dengan bulan yang kulihat malam itu. Bulan besar pertama dan terakhir yang kulihat di kota itu. Aku masih mau menikmati keindahannya, tapi kenapa waktu tak mau kuulur? Meski bulan itu hanya setengah, tapi aku mengaguminya dengan sempurna. Meski hanya seperenam bagian dalam setahun aku hidup di sana, tapi aku mengaguminya dengan sempurna. 

I'm thinking 'bout how people fall in love in mysterious ways
Maybe it's all part of a plan
Well, I'll just keep on making the same mistakes
Hoping that you'll understand


Kalau kumampu mau saja aku mengulang kesalahan, hanya demi dapat mengulang hari-hari yang sama. Hanya demi mengulur waktu. Ku harap kamu mengerti beginilah aku jatuh cinta padamu dan seluruh isimu, kota kecil. 

I'm thinking out loud
That maybe we found love right where we are

Thursday, January 22, 2015

Akhir Dari Semester 5

Gue pikir semua semester ganjil itu jauh lebih asik dari semester genap. Tapi, tapi, semester ini sekali lagi bikin gue mikir dua kali lagi dan lagi buat menyamaratakan nilai sesuatu hal yang sama. Salah besar, dude. Semester lima jauh lebih kalut daripada semester-semester ganjil lainnya, bahkan ngalahin semester empat yang gue pikir adalah klimaks. Ternyata bener apa kata dosen kalo semester lima bakalan lebih kejam dari semester enam, ya eventhough i've never did the last semester yet sih. Tapi, dari wejangan-wejangan orang-orang yang udah berpengalaman dan malang melintang di akademi (militer) gizi ini ya seperti itu kenyataannya. Kenapa? Karena meskipun semester enam bakalan lebih ngeri karena berhadapan dengan pasien langsung, terjun ke dunia "yang sebenarnya", tapi di semester enam bakalan lebih fokus ngerjain apa yang harus dikerjain. Kalo lagi giliran internship term rumah sakit yaudah fokus di situ, pun dengan di desa dan puskesmas. Ngga ada kuliah, nggak ada tugas-tugas yang membabibuta itu. Hanya ada pekerjaan, dan laporan yang langsung dikerjain di term tersebut. Dan bonusnya ya tugas akhir aka skrpsi aka KTI. Enggak kayak semester lima yang kelewatan deh. Ini gue mau berbagi kisah kenapa semester lima ini cocok banget dengan quotes satu ini:



Here they are:

1. Semester lima, dimana ada yang namanya mata kuliah dietetik lanjut. Which means........bakalan masuk ke diet buat pasien dengan penyakit parah-parah macem diabetes, jantung, stroke, gagal ginjal dan penyakit ngeri lainnya. Di sini gue agak sedikit beruntung, entah beruntung atau sebaliknya sih. Dapet dosen yang bukan sama seperti dosen semester 4 yang strict abis. Gue dapet dosen yang baru pulang dari studi S3nya di Amerika, keren sih. Tapi sepertinya beliau masih belajar untuk adaptasi lagi dalam mengajar jadi ga begitu strict. Cocok banget buat semester lima yang garang ini. Hasilnya, di matkul yang seharusnya menakutkan ini, gue jadi nyantai, dan cenderung terlalu nyantai. Tapi untungnya, gue lagi lucky aja di matkul ini. Waktu UAS kemarin dapet kasus yang sama kayak menu gue yang kepilih waktu praktek kuliah, which is...Gagal Ginjal Kronik dengan Anemia, sebenernya pas ujian ditambah hipertensi juga sih tapi ya beti-beti dietnya. Alhasil gue bikin menu yang nggak jauh beda hahahah dan ngerasa lancar ngerjainnya, awalnya takut kok gue lancar banget ngerjainnya ngga kaya biasanya. Jangan-jangan salah banget. Tapi ya, terlepas dari gue salah banyak atau nggak, alhamdulillah lulus ujian prakteknya :)
http://photos-g.ak.instagram.com/hphotos-ak-xpf1/t51.2885-15/1741937_337951113071230_2082047593_n.jpg
Menu Diet Pasien GGK + Anemia + Hipertensi saat ujian
http://photos-c.ak.instagram.com/hphotos-ak-xaf1/t51.2885-15/10831710_1513461785580482_1850991707_n.jpg
Menu Diet Pasien GGK + Anemia  saat kuliah praktek
    

2. Semester lima, ada mata kuliah KTI dasar. So fyi, KTI itu singkatan dari Karya Tulis Ilmiah adiknya skripsi lah ya. Biasanya anak D3 lainnya itu namanya tugas akhir, mereka rata-rata bikin alat gitu deh, atau membuat sesuatu lah ya pokoknya. Nah kalo jurusan gue, ya....seperti kebanyakan skripsi lainnya. Cuma beda nama aja. Di matkul KTI dasar ini, gue dkk musti udah buat proposal KTI. Lumayan gokil, di antara jurusan lainnya yang udah PKL duluan, atau masih asik main-main selayaknya semester 5, jurusan gue musti udah jadi tuh proposal di akhir 2014. Suramnya lagi, deadline judul beserta latar belakang tujuan dkk tidak lain tidak bukan adalah tanggal ulang tahun gue. Yak, hadiah yang mampu menandingi gerhana bulan yang ga pernah gue liat di malam itu. Ngomong-ngomong soal proposal, banyak hal deh yang terjadi ups and downs pastinya. Rasa-rasa putus asa judul diganti mulu, latar belakang, nyari jurnal, coret-coret buang-buang kertas dan tinta, pokoknya asem banget deh rasanya. Tapi setelah itu semua menuju deadline proposal, dosen pembimbing gue nulis di antara coret-coretannya "You can do it, so just do it!!!". A little bit improved my self confidence. Dan beliau selalu bilang jangan pernah takut salah, mahasiswa wajar kalo salah, masih belajar. Di semester lima ini pula gue akhirnya ngerasain apa yang namanya sidang proposal. Rasanya dagdigdugduer. Plus, gue udah tau siapa dosen penguji beberapa hari sebelum sidang. Seperti feeling dan apa yang gue takutin sebelumnya, dosen penguji adalah beliau. Beliau yang gue kagumi sekaligus gue waspadai hahahehehuhu. Lo bayangin deh, gue dibimbing sama seorang master, tapi diuji sama seorang doktor. Puhlease.... Bayangin aja rasanya gimana. Takut banget dan.....bangga hehe. Dosen pembimbing yang satu lagi pun ga kalah badainya deh. Yah pokoknya paket komplit banget deh sidang gue. Jadi, gue nyiapin list perkiraan pertanyaan yang bakal gue dapet nantinya. Dari beberapa pertanyaan, ternyata nyangkut tuh satu pertanyaan dugaan gue. Ya, not bad lah. Gue lumayan percaya diri karena udah nyiapin banyak hal, dan sesekali dibantuin sama dosen pembimbing hehehe. Then how's the result? Gue lulus! yeay seneng banget rasanya. Apalagi pas di awal dosen penguji yang-gue-kagumi-sekaligus-gue-waspadai itu bilang "nyaris sempurna". Gilak, mood level langsung naik banget, langsung jadi pede, nggak pernah nyangka seseorang yang supdupexpert macam beliau, yang selalu ditakutin sama anak-anak kampus ngucapin dua kata itu di sidang gue. Segala puji bagi Allah lah pokoknyaaa. Yah, walaupun setelahnya banyak banget pertanyaannya yang gue rasa dibabat semua dari bab 1 sampe akhir, sampe-sampe penguji yang satu lagi bingung mau nanya apa lagi. Lalu dijawab beliau, masih banyak kok ini yang harus ditanya. Yaaaa yang berarti proposal gue bahkan belum nyentuh garis nyaris sempurna. Tapi rakpopo, yang penting gue jadi semangat setelahnya. I swear rasanya kayak langsung pengen teriak jingkrak-jingkrak langsung, pas moderator bacain kesimpulan kaki gue udah mau lompat, tangan gue udah mau mencengkram sesuatu, rasanyaaaaaaa ga bisa digambarkan pake kata-kata pokoknya super lega!


http://photos-h.ak.instagram.com/hphotos-ak-xfa1/t51.2885-15/10881920_577827059020423_1233962274_n.jpg
Foto sebelum sidang proposal. LULUS! (Amin)

3. Semester lima, it's time to go to village! Awalnya banget gue merasa sangat excited. Yap, ke desa, adalah bagian dari mata kuliah PPG (Perencanaan Program Gizi). Tapi ketika gue mulai masuk pada fase bikin proposal, rasanya kaya ada tangan Voldemort dengan kuku runcingnya nyekek leher gue. Ya emang sih, bikinnya satu angkatan. Tapi ya itu karena banyak banget yang harus dikerjain. Gue jadi sering pulang malem lagi, masalahnya kalo tugas di dunia ini cuma bikin proposal PPG sih it's okay, tapi kan kenyataannya gak gitu. Ditambah lagi punya kelompok yang some of membernya yaaa gitu deh, males ah buat diceritain lagi. Belum lagi jadwal kuliah yang setiap hari kelar jam 4/5. Yah, pokoknya dari sebelum ke desa aja PPG udah merenggut usia muda gue, udah kebayang gimana ke depannya. Nggak jadi excited ke desa. Di semester lima ini juga, gue mendadak punya alergi. Coba tebak alergi apa? Gue juga nggak ngerti, Kata orang alergi dingin alias biduran. But fyi, alergi gue muncul dua kali di semeter lima, anehnya waktu kambuhnya adalah ketika lagi klimaks ngerjain PPG. Pertama, waktu puncak gue pulang malem gegara ngerjain proposal, D.O, dan kawan-kawannya, besokannya badan gue bentol-bentol. Kedua, waktu gue di desa, hari terakhir gue keliling wawancara responden, badan gue bentol dan gatel lagi tapi untungnya cuma sebentar dan dikit. Ketiga, baru banget jumat lalu klimaks nyelesain laporan yang 400an halaman itu, pulang malem dan besoknya gatel-gatel lagi. Jadi, gue tarik kesimpulan kalo gue alergi PPG. Pokoknya dari semua hal kejam yang ada di semester lima, PPG ini biangnya. Nggak pernah berhenti nyiksa satu hari aja tanpa doi. Nggak pernah. Selesai ngerjain proposal dan kuesioner, berangkat ke desa kayak anak ilang nyari responden, nginput asupan responden pertama kali baru tidur jam 3 pagi demi tugas kuliah (biasanya gue give up di maksimal jam 1) sampe mata gue bengkak parah kaget liatnya baru pertama kali bengkak segitunya gara-gara begadang. Cerita mengenai desanya gue ceritain di next post aja karena kalo di sini puanjang banget. Lantas, setelah dari desa masih dihantui sama kerjaan bikin laporan yang lebih cocok buat dijadiin ganjelan pintu. Laporan kelompok gue ngalahin halaman laporan tahun sebelumnya dengan supervisor yang sama. Kemudian gue bayangin adeknya yang bakal dapet supervisor yang sama kayak kelompok gue akan syok ga karuan liat laporan tahun gue. Sabar ya dek, ini hanya ujian hidup. 

http://photos-d.ak.instagram.com/hphotos-ak-xaf1/t51.2885-15/10818097_865552083484771_679232124_n.jpg

4. Semester lima, semester dimana rebutan tempat PKL. Ini lumayan menyita sedikit banyak pikiran sih. Kenapa rebutan? Karena banyak yang mau di luar Jakarta. Gue dari awal udah ngincer Malang atau Solo. Tapi karena salah satu anggota kelompok gue nggak direstuin nyokapnya banget walau udah nangis-nangis, akhirnya ngefixin Solo aja. Lagipula gue pikir nyokap gue juga lebih dukung gue di Solo sih karena ada om di sana. Awalnya, yang minat Solo ada 3 kelompok yang berarti 15 orang sedangkan kuota hanya 5 orang. Wah gila itu perjuangan banget cuy. Satu kelompok ngalah, akhirnya sisa dua kelompok buat ngisi antara Malang dan Solo. Setelah musyawarah panjang dan harus ada air mata di antaranya, akhirnya kelompok gue dapet Solo. Dua kelompok ini termasuk beruntung, kenapa? Karena nggak ada yang sikut-sikutan temen, nggak ada kocok-kocokan. Semuanya musyawarah meskipun harus ada air mata. Tapi banyak temen-temen lain yang kurang beruntung. Bener yang orang bilang, kalo masa pemilihan tempat PKL adalah masa dimana pertemanan lo diuji. Banyak pengorbanan, dan ga seidkit pula yang sikut-sikutan antar temen. Ada yang harus dikocok, dan ada yang harus berakhir dengan sekelompok sama orang yang ga dipengenin. Sekali lagi, gue beruntung. Terus, sekarang H-9 berangkat, gue mendadak deg-degan dan sedih, nggak tau kenapa. Ini pertama kalinya gue merantau guys dan 2,5 bulan bukan waktu yang singkat. Whether it's going to be fun or awful, it depends on me.


5. Semester lima, semester bokek! Ya lo bayangin aja, musti ngeprint, fotkop, jilid segitu banyak laporan PPG, proposal PPG, kuesioner PPG (elah, PPG dominan), proposal KTI yang dicoret-coret, yang musti 3 rangkap, protokol yang musti 6 rangkap. Belum lagi beli keperluan rumah sakit, beli celemek aja musti tiga padahal cuma dipake buat MSPM di RS yang cuma satu bulan. Beli bahan buat seragam, jait seragam, name tag, pelatihan CPR, pelatihan pemadam kebakaran. Abis ini gue jadi superhero lah.


Udah deh cukup lima aja, pas sama namanya, semester lima. Tetep sih, PPG dominan, yang menyita masa muda gue di semester lima. Guepun jadi ansos di semester ini, gue hampir selalu lupa buat ngucapin ulang tahun temen-temen gue. Gue inget, tapi gue entarin karena sibuk ngerjain sesuatu, setelahnya gue kelupaan, atau ketiduran. Hidup gue melulu tentang kampus di semester ini. Mau jalan juga nggak ada uang, selalu dikeep buat kepentingan laporan dan lainnya. 

Dan yak, Innama'al usri yusra, setelah kesulitan selalu ada kemudahan. Setiap harinya gue berusaha selalu mikir, "hari ini pasti lewat". Akhirnya bisa ngelewatin semuanya dengan peluh, air mata. Seneng banget akhirnya semester ini bisa dilalui dan usai. Alhamdulillah. BYE SEMESTER 5. Makasih buat pelajaran berharganya selama empat setengah bulan (yang luar biasa). 

Wednesday, December 10, 2014

Setiap orang punya masalah sendiri, setiap orang punya deritanya sendiri, juga bahagia.
Entahlah harus ngeluh kayak gimana lagi, saking udah keseringan ngeluh. Capek, capek, dan capek. Nggak pernah berniat untuk mendramatisir keadaan, tapi nyatanya begini, capek. Kadang jadi suka bandingin kenapa hidup dia lebih enak, kenapa tugas dia lebih ringan, kenapa waktu dia lebih luang. Tapi setiap orang punya masalah sendiri. Punya masalah yang tanpa disadari sama beratnya, kalau sama kemampuannya. Tuhan kan nggak pernah ngasih masalah dan cobaan di luar kemampuan hamba-Nya, iya kan? Iya. Tiap hari nyoba bersyukur, tapi tiap hari juga selalu nyeplos keluhan. Sampe rasa syukur seimbang sama ngeluh, apa gunanya? Pengen cerita dan bilang keluhan ke orang, tapi ngga ada yang tau kalo ternyata masalah yang orang itu punya jauh lebih besar daripada kita. Ya karena itulah kenyataannya, setiap ngeluh sama orang jawabannya selalu "Lo masih mending.... Gue, blablabla"

Kadang suka kepikir mana bisa ngelewatin ini, takut nggak bisa nyelesain, selalu mau cepet-cepet hari ini terlewat, tapi terlalu takut untuk ngadepin hari selanjutnya dengan berbagai kemungkinan. Mau cepet-cepet sidang, mau cepet-cepet semester 5 ini berakhir, tapi selalu takut ngadep pembimbing. Khawatir. Takut. Takut salah lagi, takut ngulang lagi. Ngulang dari awal. Bongkar pondasi yang udah dibangun dikit-dikit dan mengganti sama beton baru yang beda jenisnya.

Belum survey tempat penelitian sedangkan sebentar lagi liburan sekolah. Belum tau apa yang harus disurvey, belum tau variabelnya apa aja, dan yang paling parah belum tau judul dan latar belakang akan diganti LAGI atau nggak. Ditinggal terus sama dosen pembimbing, di PHPin terus, dijatohin terus mentalnya.

Sekarang H-3 minggu pengumpulan proposal, H- satu bulan sidang proposal. Judul sudah di acc, tapi latar belakang belum diacc. Ini baru 1/8 jalan. Sedangkan hanya tersisa waktu kurang dari satu bulan. Pengen cepet-cepet lewat, tapi nggak mau hari cepet jalan karena latar belakang dan 7/8 jalan belum dilalui.

Sidang hari pertama, jam pertama. Waktu sangat cepat berlalu, siapa sangka nanti tiba-tiba saya sudah ada di depan penguji. Dosen pernah bilang, semester 6 bahkan jauh lebih baik daripada semester 5. Meskipun, meskipun, meskipun semester 6 sudah turun langsung ke rumah sakit, desa, dan puskesmas. Tapi di semester itu hanya fokus di PKL dan tugas akhir, Sedangkan semester 5, semuanya beradu tidak mau kalah di sini. PPG desa tidak mau kalah prioritas dengan KTI. Semua diatur dari mulai proposal sampai kuesioner, terjun ke desa, acc, laporan. Belum lagi tugas-tugas lain MSPM, untuk penyelenggaraan makanan besar dapat kocokan untuk jadi tim menu dan anggaran. Di saat yang bersamaan, PMM harus bolak-balik ke pabrik, HACCP yang bikin pusing nggak karuan, ditambah harus buat menu diet, dan jangan lupa KTI. Semua serba-serbi ada di semester 5.

Yhaaa, semoga bisa melewati semuanya. Aamiin

Friday, November 14, 2014

Kumpulan Puisi dalam "Ada Apa Dengan Cinta"




Tentang Seseorang

Aku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
Aku lari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi-sepi dan sendiri
Aku benci

Aku ingin bingar,
Aku mau di pasar
Bosan Aku dengan penat,
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika Ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh,
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih,
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera

Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai?
enyah saja kau pekat
seperti berjelaga jika kusendiri
bosan aku dengan penat


Aku ingin bersama selamanya.

Ketika tunas ini tumbuh, 
serupa tubuh yang mengakar.
Setiap nafas yang terhembus adalah kata. 

Angan, debur dan emosi bersatu dalam jubah berpautan. 
Tangan kita terikat

Lidah kita menyatu
Maka setiap apa yang terucap adalah sabda pendita ratu. 
Di luar itu pasir

Di luar itu debu
Hanya angin meniup saja lalu terbang hilang tak ada. 
Tapi kita tetap menari, menari cuma kita yang tahu. 
Jiwa ini tandu

Maka duduk saja
Maka akan kita bawa

Semua… 
Karena kita adalah satu.




Ada Apa Dengan Cinta

Perempuan datang atas nama cinta
bunda pergi karna cinta
digenangi air racun jingga adalah wajahmu
seperti bulan lelap tidur di hatimu
yang berdinding kelam dan kedinginan

ada apa dengannya
meninggalkan hati untuk dicaci
lalu sekali ini aku melihat karya surga
dari mata seorang hawa

ada apa dengan cinta
tapi aku pasti akan kembali
dalam satu purnama
untuk mempertanyakan kembali cintanya.
bukan untuknya, bukan untuk siapa
tapi untukku
karena aku ingin kamu,itu saja.